Kisah Perjuangan Para Jurnalis di Ghouta Suriah

965
Suriah semakin terpuruk (Photo: Al Jazeera)

Suriah, Muslim Obsession – Dua wartawan yang berbasis di Ghouta Suriah, mengungkapkan pengalaman mereka meliput serangan udara dan hidup bertahun-tahun di bawah pengepungan.

Ammar Al-Bushi, Fotografer di Suriah

Ammar Al-Bushi, fotografer berusia 24 tahun, bercerita kepada Al Jazeera, Selasa (27/2/2018). Ia mengatakan, perjuangan jurnalis itu lebih sulit daripada konfrontasi militer.

“Suatu hari nanti, kita akan menyadari bahwa fotografer juga seorang manusia biasa. Aku tidak bisa melupakan tragedi saat seorang demonstran dengan spanduk mereka menyerukan kebebasan. Lalu seketika ia tewas terbunuh di depan mataku,” ujar Ammar.

“Kita mungkin sudah terbiasa dengan kematian, suara bom dan ucapan selamat tinggal pada orang-orang yang kita cintai,” imbuhnya.

Ammar Al-Bushi, Fotografer di Suriah

Sebagai wartawan di Ghouta Timur, Ammar mengaku tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pelatihan jurnalistik seperti di wilayah Suriah lainnya. Karena, bertahun-tahun, mereka berada dalam pengepungan.

Oleh karena itu, Ammar mengaku, pengetahuannya dalam jurnalisme terbatas pada apa yang bisa ia akses dari internet.

Sebagai seorang jurnalis, Ammar mengatakan dirinya berada di posisi yang amat sulit. Di mana dia harus memotret ratusan anak yang meninggal. Ia juga sempat meletakkan es di tubuh mereka dan menulis nomor di dahi, untuk mendokumentasikan kematian mereka.

“Anda akan berpikir bahwa tidak ada sesuatu di dunia ini yang sulit untuk disaksikan. Tapi, kenyataannya tidak. Dunia mungkin tidak terpengaruh oleh penderitaan kami, namun pada akhirnya tidak ada yang suka mati tanpa berbuat sesuatu,” tutur Ammar.

Masalah teknis di Ghouta Timur yang Ammar rasakan, mempersulit mereka berkomunikasi dengan dunia luar. Ammar nyaris selalu kesulitan mengirim video ke luar negeri, karena layanan internet 3G dikendalikan oleh pemerintah di banyak wilayah.

Para jurnalis juga memiliki masalah akses listrik dan bahan bakar. Untuk mengatasinya, Ammar memanfaatkan listrik dari panel surya, yang ia hubungkan ke baterai mobil.

“Kami menggunakan perangkat yang disebut Inventor untuk dilampirkan ke baterai. Begitulah cara kami mengisi daya peralatan kami untuk waktu yang singkat. Seperti itulah cara kita bekerja untuk berkomunikasi dengan belahan dunia lainnya,” paparnya.

Terlepas dari semua kesulitan dan resiko dalam hidup mereka, Ammar mengatakan pekerjaan jurnalis adalah pekerjaan abadi. Semua atas dasar keyakinan mereka akan kebenaran.

“Jika kebebasan terpaksa harus dibayar dengan harga mahal. Maka sepanjang hidup kita layak berjuang untuk membayarnya,” tandasnya.

Alaa Al-Ahmad, Reporter di Suriah

Selain Ammar, ada Alaa Al-Ahmad seorang reporter dari Damaskus di Ghouta Suriah. Ahmad mengaku, jurnalisme sudah mengalir di dalam darahnya, maka sesulit apa pun rintangannya, ia akan selalu menghadapinya.

Ahmad meninggalkan pendidikan kuliahnya di Universitas Damaskus dan pergi ke Ghouta Suriah untuk menjadi reporter.

“Saya menganggap diri saya sendiri sebagai penduduk Ghouta Timur. Bahkan sebelum menjadi wartawan. Maka, saya bisa memastikan bahwa kita belum pernah menyaksikan tingkat eskalasi ini sebelumnya. Bahkan saat Ghouta dibom dengan senjata kimia pada pertengahan 2013,” ujar Ahmad, mengaku serangan pekan lalu lebih dahsyat dari sebelumnya.

Ahmad bercerita bagaimana ia dan keluarganya berlindung di ruang bawah tanah. Kondisi hidup buruk karena masalah kebersihan, serta kekurangan makanan dan air. Namun, di tengah pahitnya serangan yang mereka hadapi, Ahmad tetap menjalankan tugasnya sebagai jurnalis.

Alaa Al-Ahmad, Reporter di Ghouta Suriah

“Saya bersama dengan wartawan dan fotografer lainnya selalu berada di lapangan untuk meliput apa yang terjadi di sini sepanjang waktu. Kami menghadapi beberapa kesulitan seperti kekurangan listrik,” ungkapnya.

Ia harus berpindah dari satu jalan ke jalan yang lain, kadang-kadang saat rudal dijatuhkan. Ia melakukannya untuk menjangkau teman-teman jurnalis di lingkungan yang berbeda.

“Saya menitipkan peralatan saya kepada mereka, agar bisa mengisi ulang daya. Maka, saya kembali lagi dengan membawa kamera untuk memotret akibat pemboman atau orang-orang yang melarikan diri dari rumah mereka,” paparnya.

“Para jurnalis juga menghadapi resiko kematian karena kehadiran mereka di lapangan, jalanan, dan di atas-atas atap untuk mengawasi pesawat tempur dan rudal mereka. Kami memantau untuk melihat di mana rudal akan mendarat. Lalu, memantau bencana yang terjadi di lokasi pengeboman,” tandas Ahmad.

Ahmad dan teman-teman jurnalis lainnya menggunakan sepeda motor untuk menjangkau setiap lokasi. Seringkali liputan berita menjadi luput dan terhambat akibat kurangnya bahan bakar.

“Terkadang semangat kita rendah untuk berusaha menyadarkan seluruh dunia atas penderitaan panjang ini. Namun saya tetap melanjutkan pekerjaan jurnalis saya terlepas dari kesulitan apapun,” tandasnya. (Vina)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here