Kisah Nyata: Belajar tentang Rezeki dari Penjual Buku di Emperan Masjid

90

Muslim Obsession – Sore setelah perjalanan panjang dari Klender menuju kantor Dharmapena Group di Jalan Kedondong Jagakarsa untuk mengajar Ilmu Fikih, saya berhenti di Masjid Jami’ Al-Wiqoyah.

Lantunan suara adzan shalat Ashar mengarahkan sepeda motor saya ke salah satu masjid terbesar di Jagakarsa tersebut.

Setelah menunaikan shalat Ashar saya bergegas keluar. Tapi karena sedikit tergesa, kaki saya terantuk tumpukan buku. Alhasil, buku-buku itupun berantakan.

Saya segera membereskannya seraya meminta maaf kepada seorang bapak penjual buku di emperan masjid itu.

Tapi entah bagaimana, mata saya tertuju ke kantong uang yang juga ikut tertabrak. Kantong uang itu tampak kosong.

Sontak, terbersit di benak saya, mungkin uangnya belum cukup diperoleh. Apalagi umumnya, orang-orang akan bergegas pergi setelah shalat Ashar.

Usai membereskan buku-buku yang berantakan, saya melihat bapak penjual buku itu duduk bersila sambil tangannya memegang sesuatu.

Masya Allah, ternyata ia tengah membaca kitab suci Al-Quran.

Melihat itu, tak kuasa bagi saya untuk segera mengajukan beberapa pertanyaan.

“Assalamu’alaikum, Pak..” sapa saya mengawali obrolan.

“Wa’alaikumussalam..,” jawabnya.

“Bagaimana jualan buku-buku agamanya, Pak?”

“Alhamdulillah, sudah terjual satu buku Iqro. Harganya Rp.25.000.”

“Bapak menjual buku-buku ini dari kampung ke kampung?”

“Iya, Pak. Tapi kalau sudah waktunya shalat, saya biasanya ke masjid dan jualan di sini setelah shalat.”

“Dari pagi Bapak baru dapat uang Rp.25.000?” tanya saya menyelidik.

“Insya Allah sudah diatur rezekinya,” jawab Bapak itu santai.

Sampai di sini, saya berhenti sejenak. Terbersit rasa kagum pada jawaban tadi.

Rezeki sudah Allah atur. Ahk.., kalimat ini mengajak saya untuk kembali melanjutkan pertanyaan.

“Terus, kalau sampai malam Bapak belum juga dapat tambahan, bagaimana?”

“Itu berarti rezeki saya bukan jualan buku, tapi banyak berdoa.”

“Kenapa?”

“Bukankah Rasulullah Saw. pernah besabda, waktu Ashar adalah saat yang mustajab untuk berdoa. Maka, kesempatan berdoa itu adalah rezeki juga.”

“Lantas, kalau tidak dapat uang, bagaimana?”

“Berarti, rezeki saya adalah bersabar.”

“Kalau tidak ada yang bisa dimakan?”

“Berarti rezeki saya berpuasa.”

“Kenapa bisa berpikir seperti itu?”

“Allah Swt. yang memberi kita rezeki. Apa saja rezeki yang Allah berikan saya syukuri. Selama berjualan, walaupun tidak laku, dan harus berpuasa saya tidak pernah kelaparan,” kata-katanya ikhlas menutup pembicaraan.

Bapak penjual buku itu kemudian bersiap-siap untuk kembali menjajakan buku-bukunya. Ia pergi sambil memasukkan Al-Quran ke dalam tasnya.

Saya termenung. Tanpa disadari, cermin mata menjadi gelap karena linangan air mata.

Saya tersadar setelah merenungi setiap kalimat tausiyah yang diucapkan Bapak penjual buku di masjid Jami’ Al-Wiqoyah tadi.

Ada penyesalan di dalam hati, mengapa dalam berdakwah ada saja yang dikhawatirkan. Khawatir tidak mendapat uang, risau rumahnya akan terendam banjir, bimbang tidak bisa datang ke kantor, bahkan keluh kesah tidak bisa bertemu rekan bisnis.

Kembali saya sadari bahwa rezeki bukan saja uang. Rezeki bisa dalam bentuk hidayah, kesabaran, berpuasa, berdoa, beribadah, rasa syukur.

Semuanya merupakan amal shalih yang perlu kita syukuri, yang juga merupakan rezeki dari Allah Swt.

Masya Allah..

(Disampaikan Ustadz Syamsuri Halim untuk Sobat Muslim Obsession).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here