Kisah Memuliakan Tamu Ala Tuan A. Hassan

324

Oleh: Artawijaya (Penulis Buku, Alumnus Pesantren Persis Bangil)

“Dua hal yang sangat menonjol dalam pribadi A. Hassan: Korek (tepat guna, pen.) dalam mempergunakan waktu dan penerima tamu yang baik sekali,” demikian kenang H.D.P Alimin Sati, murid Tuan A.Hassan, memberi kesaksian, sebagaimana dikutip dari Majalah Al-Muslimun, April 1980.

H.D.P Alimin Sati adalah sosok di balik penyusunan buku Capita Selecta karya Mohammad Natsir. Ia mengumpulkan tulisan-tulisan Natsir yang terserak di berbagai majalah, kemudian menyusunnya menjadi sebuah buku yang menjadi salah satu masterpiece Mohammad Natsir.

Pada tahun 1930, usia Alimin baru 21 tahun. Ia bekerja sebagai pegawai negeri di Minangkabau, Sumatera Barat. Perkenalannya dengan Tuan Hassan pertama kali lewat Majalah Pembela Islam; media massa yang dikelola oleh A. Hassan dan Mohammad Natsir.

Di majalah ini, tulisan-tulisan A. Hassan memikat hati dan menggugah semangatnya. Ia yang tadinya pengagum Soekarno dan tidak suka dengan tulisan-tulisan A. Hassan karena mengetik pujaannya, berubah setelah membaca hujjah-hujjah A. Hassan yang mengoreksi secara tegas pikiran-pikiran presiden pertama RI itu.

Setelah itu mulailah terjadi korespondensi antara A. Hassan dan Alimin Sati. Meski tak pernah bertatap muka dan hanya berkenalan lewat surat menyurat, namun ketika Alimin Sati berkunjung ke rumah A. Hassan di Bandung, ulama itu menyambutnya seperti bertemu dengan kawan lama yang tak berjumpa. Padahal usia Alimin ketika itu terpaut sangat jauh dari Tuan Hassan.

Sekira sepuluh menit berbincang dan bertanya kabar, A. Hassan mengatakan kepada Alimin sebagai tamu barunya, “Tuan istirahat dulu, itu divan untuk tuan, itu handuk, itu bakiak. Saya teruskan kerja saya sedikit lagi, nanti sore kita boleh ngomong-ngomong dan jalan-jalan,” ujarnya.

Betapa simpatiknya pribadi Tuan Hassan. Tamu yang baru pertama berjumpa, diperlakukannya seperti sahabat lama. Tempat tidur dan peralatan mandi sudah disiapkan. “Kopor dan bawaan saya, saya dapati sudah terletak di bawah divan yang akan saya tempati,” kenang Alimin Sati.

“Kesan pertama yang saya dapat, betapa koreknya Tuan Hassan ini mempergunakan waktu, dan alangkah begitu baiknya ia kepada tamu,” kata Alimin, yang awalnya hanya sekadar ingin bertemu sekitar satu jam, lalu mencari penginapan.

Setelah beristirahat, Tuan A. Hassan menunaikan janjinya mengajak Alimin Sati untuk berjalan-jalan dan bersilaturrahmi dengan teman-temannya yang merupakan tokoh-tokoh Persatuan lslam. Ia diajak bertemu dan berkenalan dengan H. Zamzam, Sabirin, Natsir, Fachruddin Al-Qahiri, Qamaruddin Saleh, H. Mahmud Aziz, dan lain-lain.

Betapa senangnya Alimin dengan perlakuan Tuan Hassan, sampai-sampai pada suatu hari ia ingin berhenti jadi pegawai negeri dan tinggal bersama dengan Tuan Hassan untuk belajar dan berkhidmat pada agama. Keinginannya itu ia sampaikan melalui surat kepada Tuan Hassan.

Namun keinginan itu ditolak, karena A. Hassan merasa tidak mampu memberikan penghidupan yang layak bagi Alimin yang ketika itu sudah mendapatkan gaji cukup lumayan dan sudah berkeluarga.

“Sayang kami belum bisa menerima Tuan, sebab kehidupan tuan sebagai pegawai negeri sudah lumayan,” kata A. Hassan. “Bila tuan tidak ada istri dan anak, silakan tuan datang ke Bandung, mari kita hidup bersama seada-adanya!” tambah Tuan Hassan.

Beberapa tahun kemudian, pada akhir tahun 1940-an, H.D.P Alimin Sati kembali bertamu ke rumah A. Hassan. Tetapi kali ini tidak di Bandung, melainkan di Bangil, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Sejak tahun 1940, A. Hassan pindah ke Bangil dan mendirikan Pesantren Persatuan Islam (Persis) di kota ini.

Perlakuan A. Hassan kepada tamu, seperti kata Alimin Sati, tak jauh berbeda pada saat tahun 1930-an ketika ia bertamu di rumahnya di Bandung, Jawa Barat. Setelah berbincang selama kurang lebih 10-15 menit, A. Hassan kemudian pamit pada tamunya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sementara itu, tempat tidur untuk istirahat dan peralatan mandi sudah tersedia.

Saat pamit untuk pulang, A. Hassan dan sahabatnya, KH Muhammad Ali Al-Hamidy mengantarnya ke Stasiun Bangil. Sepanjang jalan, Alimin menyaksikan hampir setiap orang yang berjumpa dengan Tuan Hassan, dengan senang dan tersenyum menyalaminya. “Kok banyak benar teman tuan?” tanya Alimin.

Lalu A.Hassan menjawab, di antara orang-orang yang menyalaminya, banyak di antaranya adalah orang keturunan Arab, yang pada itu sering disebut “kaum Sayyid”, yang sering merasa lebih tinggi derajatnya dengan kaum lain.

“Yang kita bersalaman tadi itu, adalah bangsa Sayyid yang dulu kita inflasikan,” kata A. Hassan. Diinflasikan maksudnya dikritik secara tajam, sehingga masyarakat paham bahwa derajat mereka dengan lainnya sama, yang membedakan adalah ketakwaannya.

Melihat hal itu, Alimin Sati heran. “Tapi mengapa mereka begitu baik kepada tuan?” Tanyanya.

A.Hassan menjawab, “Saya kan tidak memukul pribadi, dan dalam pergaulan saya tetap baik dengan mereka. Kalau saya hajat, mereka saya undang, dan bila mereka mengundang, saya datang.”

Perbincangan berakhir di stasiun. Ketika ingin membeli tiket kereta, Alimin terkejut, “Ini karcis untuk tuan, sudah disediakan…” ujar A. Hassan sambil memberikan karcis kereta kepadanya.

Betapa hebatnya perlakuan Tuan Hassan kepada tamunya. Inilah yang begitu berkesan bagi Alimin Sati sepanjang hidupnya.

Kesan yang sama terhadap kebaikan A. Hassan dalam menerima tamu juga dirasakan oleh H. Zainal Abidin Ahmad, seorang ulama asal Minangkabau yang juga penulis hebat.

“Saya tidak pernah menyangka sedikit juga, Tuan Hassan ini seorang penerima tamu yang begitu baik dan begitu ramah…” kenang Z.A Ahmad. Ia tak menyangka, karena banyak orang menduga, kritik-kritik A. Hassan yang begitu keras dan tajam, itu menggambarkan sosok dan kepribadiannya. Ternyata tidak.

A.Hassan, sebagaimana digambarkan oleh H. Tamar Djaja dalam buku “Riwayat Hidup A. Hassan,” adalah: Singa dalam perdebatan, dan domba dalam pergaulan.”

Kepribadian inilah yang harus ditiru oleh anak cucu biologis dan ideologis dari Ustadz A. Hassan. Tegas dalam pendirian, santun dan ramah dalam pergaulan. Rahimahullah rahmatan waasi’ah. Semoga Allah SWT memberikan rahmat yang luas kepada Al-Ustadz Hassan bin Ahmad alias A. Hassan. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here