Kisah Khalifah yang Bijak

387
Ilustrasi: Khalifah bersama rakyatnya.

Muslim Obsession – Suatu hari, Al-Mu’tadhid Billah, Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad  berpidato di hadapan para rakyatnya.

Khalifah mengatakan bahwa siapa pun yang melihat sesuatu yang mereka benci dari kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, maka gerbang kerajaan akan terbuka selebar-lebarnya, dan khalifah akan mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulut rakyatnya.

Setelah berpidato, tak lama datanglah seorang rakyat bernama Ibnu Hamdun. Dia memberanikan diri untuk menghadap khalifah sebab ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak dua tahun lalu.

“Yang mulia, ada satu hal yang mengganjal di hatiku. Sudah dua tahun ini aku ingin sekali menyampaikannya pada Tuan,” ucap Ibnu Hamdun.

“Apa yang membuatmu belum menyampaikannya kepadaku sampai hari ini?” tanya Khalifah Al-Mu’tadhid.

“Karena aku hanyalah rakyat biasa, sementara yang mulia adalah Khalifah, penguasa negeri ini,” jawab Ibnu Hamdun sembari menundukan kepala.

“Katakanlah, jangan takut! Aku mendengarkanmu,” ucap Khalifah Al-Mu’tadhid.

“Dahulu, yang mulia pernah datang ke negeri Persia. Kala itu, ada beberapa tentara yang mencuri buah semangka di sana. Lalu Yang mulia memerintahkan agar para tentara itu mendapatkan hukuman yang begitu berat,” ungkap Ibnu Hamdun.

“Aku merasa, sebetulnya hukuman cambuk sudah cukup bagi para tentara yang mencuri semangka. Namun, yang mulia justru memerintahkan agar para tentara itu mendapatkan hukuman mati. Sepertinya hukuman itu terlalu berat untuk menebus kesalahan mereka,” lanjut Ibnu Hamdun.

Mendengar cerita Ibnu Hamdun, Khalifah tersenyum.

“Apakah kamu benar-benar menduga bahwa yang dihukum mati kala itu adalah para tentara yang mencuri semangka? Sungguh bagaimana aku menghadap Allah di Hari Kiamat kelak bila aku membunuh seseorang  hanya karena mencuri buah semangka?” ucap Khalifah.

“Yang benar adalah aku memerintahkan kepada tentaraku untuk mengeluarkan para penyamun dan pembunuh yang memang layak untuk mendapatkan hukuman mati. Lalu sebelum mereka mendapatkan hukuman mati, aku memerintahkan agar mereka mengenakan seragam yang biasa dipakai oleh para tentara,” tambahnya.

“Aku lakukan hal tersebut untuk memberikan efek gentar kepada para tentara yang mungkin saja ada niat untuk melanggar atau bertindak sewenang-wenang,” jelas Khalifah.

— Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah dan paling dekat tempat duduknya di hari kiamat adalah pemimpin yang adil. (HR. Tirmidzi no. 1329; hadis hasan menurut Imam Suyuthi). (Pada Catatannya Imam As-Suyuti rahimahullah menceritakan yang demikian itu).

*****

Khalifah Al-Mu’tadhid Billah (892-902 M) dilahirkan pada 242 H dari Rahim seorang ibu bernama Shawab. Dilantik sebagai khalifah ke-16 pada Rajab 279 H, Al-Mutadhid Billah menggantikan pamannya, Al-Mu’tamid.

Di masa pemerintahannya, masyarakat Daulah Abbasiyah merasakan keamanan dan kesejahteraan. Al-Mu’tadhid merupakan khalifah pemberani dan berwibawa dengan berpenampilan menyeramkan namun kaya gagasan. Konon, jika marah kepada seorang komandan perang, maka ia akan memerintahkan agar orang itu segera dimasukkan ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah.

Al-Mu’tadhid juga seorang politikus ulung, gagah perkasa dengan pendirian yang keras dan tegas. Siapapun takut melakukan pelanggaran, sehingga berbagai gejolak pada masa pemerintahannya bisa diredam. Dia membebaskan cukai, menebarkan keadilan dan menindak siapa saja yang berlaku zhalim terhadap rakyat.

Julukannya adalah “As-Saffah II” dengan prestasi membangun kembali Dinas Bani Abbasiyah dengan baik setelah mengalami kemunduran. Al-Mu’tadhid wafat pada 289 Hijriyah.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here