Kisah Kezuhudan Salim, Cucu Umar bin Khattab

3056
Unta
Unta dan pemiliknya di gurun pasir. (ilustrasi)

MuslimObsession.com – Alkisah, pada suatu waktu Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik berkunjung ke Makkah untuk berhaji. Saat melakukan thawaf, beliau melihat Salim bin Abdullah bin Umar bin Al-Khattab bersimpuh di depan Ka’bah dengan khusyu’.

Lidahnya bergerak membaca Al-Quran dengan tartil dan khusyuk. Sementara air matanya meleleh di kedua pipinya. Seakan ada lautan air mata di balik kedua matanya.

Usai thawaf dan shalat dua raka’at, khalifah berusaha menghampiri Salim. Orang-orang memberinya tempat, sehingga dia bisa duduk bersimpuh hingga menyentuh kaki Salim. Namun Salim tidak menghiraukannya karena asyik dengan bacaan dan dzikirnya.

Diam-diam khalifah memperhatikan Salim sambil menunggu beliau berhenti sejenak dari bacaan dan tangisnya. Ketika ada peluang, khalifah segera menyapa, “Assalaamu’alaikum wa rahmatullah, wahai Abu Umar.”

“Wa’alaikassalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Salim.

“Katakanlah apa yang menjadi kebutuhan Anda wahai Abu Umar, saya akan memenuhinya,” ujar Khalifah.

Salim tidak mengatakan apa-apa sehingga Khalifah menyangka dia tidak mendengar kata-katanya. Sambil merapat, khalifah mengulangi ucapannya, “Saya ingin Anda mengatakan kebutuhan Anda agar saya bisa memenuhinya.”

“Demi Allah, aku malu mengatakannya. Bagaimana mungkin, aku sedang berada di rumah-Nya, tetapi meminta kepada selain Dia?” tegas Salim.

Khalifah terdiam malu, tapi dia tak beranjak dari tempat duduknya. Ketika shalat usai, Salim bangkit hendak pulang. Orang-orang memburunya untuk bertanya tentang hadits ini dan itu, dan ada yang meminta fatwa tentang urusan agama, dan ada pula yang meminta untuk didoakan.

Khalifah Sulaiman termasuk di antara kerumunan itu. Begitu mengetahui hal tersebut, orang-orang menepi untuk memberinya jalan. Khalifah akhirnya bisa mendekati Salim, lalu berkata:

“Sekarang kita sudah berada di luar masjid, maka katakanlah kebutuhan Anda agar saya dapat membantu Anda.”

“Dari kebutuhan dunia atau akhirat?” tanya Salim.

“Tentunya dari kebutuhan dunia,” jawab Khalifah.

“Saya tidak meminta kebutuhan dunia kepada Yang Memiliki-nya, bagaimana saya meminta kepada yang bukan pemiliknya?” kata Salim.

Khalifah malu mendengar kata-kata Salim. Dia berlalu sambil bergumam: “Alangkah mulianya kalian dengan zuhud dan takwa wahai keturunan Al-Khattab. Alangkah kayanya kalian dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah memberkahi kalian sekeluarga…”

Demikianlah Salim bin Abdullah, sosok yang mewarisi kezuhudan dari ayah dan kakeknya.

(Disarikan dari buku “Mereka Adalah Para Tabi’in, terjemahan dari kitab “Shuwaru min Hayati at-Tabi’in” karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya).

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here