Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 1)

293

*****

“Mbok, kenapa saya tidak boleh mencintai Larasati?” Jantuk meradang dengan tatapan serius memandang ibunya.

“Ooalah, Le.. mbok ya kamu sadar. Siapa dirimu dan siapa Ndoro Larasati.” tegas benar jawaban yang diberikan si ibu.

“Saya tidak mengerti, Mbok..”

“Le, kita ini hanya orang miskin. Sampai sekarang saja kita sudah tidak makan nasi sejak dua hari lalu. Beruntung masih ada sisa gaplek yang dikirim tetangga, sehingga kita tidak mati kelaparan. Dan kamu sendiri juga harus sadar, Le. Ndoro Larasati itu ayune kayak Dewi Sembodro. Sementara kamu.. Oh, mukamu bopeng karena bisul yang tak kunjung sembuh sejak kamu dilahirkan. Le, eling yo..”

Jantuk terdiam.

Memang benar apa yang dikatakan ibunya, bahwa mencintai Larasati ibarat pungguk merindukan rembulan. Jantuk sendiri sebenarnya sudah paham kondisi ini. Bahkan, telah sejak lama Jantuk mengerti betapa jauh jurang yang menganga di antara dirinya dan Larasati. Jantuk telah sangat paham, lebih paham dari siapapun yang mengenal dirinya.

Yang tidak habis pikir dalam benak Jantuk adalah mengapa Tuhan begitu tega telah menciptakan dirinya berbeda dengan lelaki lainnya. Jantuk berbadan pendek, berkulit legam, bergigi tonggos, dan berwajah bopeng akibat bekas pecahan bisul-bisul yang dideritanya sejak kecil. Sementara lelaki lain berbadan sempurna, meski dengan standar yang berbeda. Jika ada yang jelek, tak ada satupun lelaki di kampung Jantuk yang melebihi kejelekannya. Apalagi Raden Emin yang rupawan ditunjang kepintaran di atas rata-rata.

“Mbok, jika perbedaan itu sangat lebar, siapa yang harus disalahkan? Bukankah saya sendiri tidak pernah meminta dilahirkan dengan rupa seperti ini. Mengapa ini terjadi, Mbok?” pertanyaan Jantuk menghujam tepat di jantung si ibu.

Si ibu terdiam. Suasana seketika hening.

“Ini sudah kersaning Gusti Allah, Le. Terima saja..” datar saja jawaban si ibu.

“Tidak bisa, Mbok. Saya tidak terima diciptakan seperti ini oleh Tuhan. Saya harus protes. Tuhan tidak fair play..”

“Oalah, Le. Sadar, yo..”

“Tidak bisa! Saya harus mencari Tuhan untuk menanyakan hal ini!”

Ojo dumeh kowe, Le. Kamu jangan macam-macam. Jika Tuhan murka, siapa yang mau menolong kamu?”

“Tidak bisa! Tuhan tidak fair play!”

“Lalu, jika kamu anggap Gusti Allah tidak adil, mau ke mana kamu protes?”

“Ya.. ke Tuhan.”

“Tapi, di mana kamu bisa menemui-Nya?”

“Nah, itulah yang ingin saya tanyakan kepada Simbok. Di mana Tuhan?”

Seketika kepala si ibu dipenuhi kunang-kunang yang hilir mudik berputar tak henti. Pusing benar si ibu ketika alamat Tuhan ditanyakan anaknya. Seingatnya, Tuhan tidak pernah terdaftar dalam lembaran lontar yang tersimpan sebagai arsip di kantor Ki Kuwu. Di dusun ini saja tak ada satupun penduduk bernama Tuhan. Teman-temannya semasa kecil pun tak ada yang bernama Tuhan. Entah di kampung lain. Otak si ibu tiba-tiba lelah memikirkan itu semua.

“Simbok tidak tahu, Le. Ibu pun tidak pernah bertemu dengan-Nya.”

“Jadi, saya harus mencarinya ke mana?”

“Coba kamu tanyakan ke Kyai Bodronoyo atau Habib Rizieq atau Den Yusuf Mansur atau Amien Rais atau mungkin saja Raden Joko Widodo. Barangkali mereka pernah bertemu dengan Tuhan di kampung lain.”

“Baik, Mbok. Kalau begitu saya pamit untuk mencari Tuhan. Doakan agar protes saya ini tersampaikan dan Tuhan mau bertindak fair play..”

“Iya, Le. Simbok doakan.”

 

Bersambung…


Karya: Dzunnun Bilba (Pecinta Literasi Sastra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here