Kisah Haru, Ibu Tua dan Tiga Anak Lelakinya

478
Ilustrasi: Ibu tua.

Muslim Obsession – Alkisah, ada seorang ibu tua dengan tiga anak laki-laki yang semuanya telah berkeluarga.

Ibu tua itu hidup sendiri, karena anak-anaknya telah memiliki tempat tinggal masing-masing dengan istri dan anak-anak mereka.

Suatu ketika, si ibu ingin mengunjungi ketiga anaknya. Ia ingin menginap sambil melihat-lihat dengan siapa dari anak-anaknya itu, ia akan hidup menghabiskan sisa usianya.

Hari pertama, si ibu menginap di rumah anak tertuanya.

Di pagi hari ibu tua itu minta diambilkan air untuk berwudhu kepada istri anaknya. Lalu ia pun bewudhu dan shalat. Usai shalat, si ibu menumpahkan sisa air wudhu itu ke atas kasur tempat tidurnya semalam.

Ketika istri anak pertamanya datang mengantarkan sarapan pagi, si ibu berkata kepadanya, “Anakku, beginilah kondisi kalau sudah tua. Semalam aku ngompol di atas kasur”.

Mendengar itu, spontan menantu ibu tua itu emosi dan marah. Ia keluarkan umpatan, kalimat kasar dan pedas, meluncur deras tanpa rem dari mulutnya. Bahkan ia perintahkan si ibu untuk mencuci dan mengeringkan sprei yang basah.

Tak cukup, sambil berlalu, istri anak pertamanya itu juga mengancam si ibu agar tidak melakukan itu lagi. “Kalau tidak….. awas!” katanya, kasar.

Ibu tua itu menahan kemarahan. Sebagai seorang ibu dari suami perempuan tadi, muncul rasa marah. Ia pun membersihkan tempat tidur itu dan mengeringkannnya kembali.

Keesokan harinya, si ibu tua itu pergi ke rumah anaknya yang kedua. Di sana ia juga melakukan hal yang sama.

Rupanya, si ibu tua ingin menguji seberapa baik menantu-menantunya. Harapannya, ia ingin mendapatkan tempat terbaik dan tinggal bersama keluarga anak-anaknya untuk menghabiskan masa tua.

Lalu, apa yang terjadi ketika ia melakukan hal yang sama seperti di rumah anak pertamanya?

Amarah istri dari anaknya kedua meledak. Ia pun memperlakukan si ibu tua seperti yang dilakukan oleh istri anaknya yang pertama. Bahkan ia melaporkan si ibu kepada suaminya.

Bagaimana responnya? Anak kedua si ibu tua hanya diam saja. Ia tidak memarahi istrinya juga tidak membela ibunya.

Keesokan harinya, si ibu tua memutuskan untuk meninggalkan mereka dan selanjutnya pergi ke rumah anak bungsunya.

Lagi-lagi, untuk menguji menantunya, si ibu tua pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan di rumah kedua anak lelakinya.

Singkat cerita, ketika istri dari anak ketiganya itu datang mengantarkan sarapan pagi, si ibu tua memberi tahukan bahwa ia semalam mengompol di atas tempat tidur.

Sambil tersenyum ramah menantunya berkata, “Tidak apa-apa, ibu. Saya memahami keadaan orang yang sudah tua. Dulu kami pun begitu. Seberapa sering kami mengompol di pangkuan ibu ketika kami masih kecil? Kami pun sering mengompol di atas tempat tidur.”

Si ibu tua kini bisa tersenyum. Ia melihat menantunya membersihkan tempat tidur, mengeringkannya dan memberikan wewangian.

Hingga pada sebuah siang, si ibu tua berkata kepadanya, “Aku punya seorang teman. Ia minta dibelikan perhiasan emas, tapi aku tidak tahu ukurannya. Orangnya persis sebesarmu ini. Tolong berikan ukuran tanganmu”.

Setelah mendapatkan ukuran yang ia inginkan, si ibu tua pergi ke pasar membeli perhiasan emas yang banyak, karena nyatanya ia memang seorang kaya raya.

Setelah itu, ia kemudian mengundang seluruh anak dan menantunya untuk datang ke rumahnya. Ia keluarkan seluruh perhiasan yang sudah dibelinya, lalu ia menceritakan perihal sebenarnya bahwa ia sengaja menumpahkan air di atas tempat tidur.

“Aku sama sekali tidak mengompol waktu tidur,” katanya getir.

Ia kemduian memanggil istri anaknya yang paling kecil, lalu ia pasangkan perhiasan itu kepadanya.

“Inilah anakku tempat aku bersandar nanti ketika aku sudah semakin tua. Aku akan menghabiskan sisa-sisa umurku bersamanya,” ujar si ibu tua membuat istri anaknya yang pertama dan kedua hampir pingsan menahan malu dan sesal.

Selanjutnya ibu itu berkata kepada anak-anaknya,

“Seperti inilah nanti perlakuan anak-anak kalian kepada kalian ketika kalian sudah tua. Bersiap-siaplah untuk menyesal pada hari itu sebagaimana menyesalnya aku atas letihnya aku mengasuh kalian waktu kecil. Kecuali adik kalian ini. Ia akan hidup bahagia dan akan menemui Tuhannya dalam keadaan gembira. Kalian berdua tidak mendapatkan hal seperti ini dari istri-istri kalian karena kalian tidak mendidik mereka tentang harga seorang ibu”.

 

**Kisah ini viral dan dipublish setelah disunting.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here