Kisah Gus Dur dan Ilmu Kasyafnya

142

Muslim Obsession – Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur selalu lekat dengan kisah-kisahnya yang luar biasa. Tak cuma celetukannya yang bikin tertawa dan ambyar pendengarnya, Gus Dur juga dikenal memiliki spiritualisme yang tinggi.

Kiai kharismatik yang pernah memimpin Nahdlatul Ulama (NU) selama tiga periode itu bahkan dipercaya oleh para Nahdliyin sebagai wali Allah yang memiliki karamah. Salah satunya seperti yang diceritakan dan ditulis Gus Wafiyul Ahdi dari Tambakberas, Jombang, berikut ini:

“Gus Dur dan Ilmu Kasyafnya”

Istilah ilmu kasyaf itu sangat familiar bagi masyarakat santri pengamal dan pengkaji ilmu tasawuf.

Kasyaf/mukasyafah secara gampang bisa diartikan dengan tersingkapnya tabir yang menutupi hal-hal ghaib pada seseorang karena tingginya derajat spiritualitasnya sehingga orang tersebut bisa melihat hal-hal ghaib yang bagi orang pada umumnya tidak tampak/tertutupi.

Baca juga: Mahfud MD Kenang Gus Dur Bercerita tentang Orang Madura dan Polisi

Nah, suatu ketika Gus Dur berangkat haji dengan “bolo-bolo plek” nya alias teman-teman akrabnya.

Ada abah saya, Abah Amanulloh Tambakberas, ada Kyai Mu’adz dan Kyai Nukman Tohir Kajen Pati, ada H. Masnuh Waru Sidoarjo, dan beberapa orang lainnya. Keberangkatan haji rombongan ini sangat istimewa karena membawa misi khusus dari sesepuhsesepuh NU untuk wiridan menjelang muktamar.

Di tengah-tengah suasana wukuf di padang Arafah, tiba-tiba Gus Dur mengajak H. Masnuh untuk keluar dari tenda dan menggelar sajadah di samping tenda.

Baca juga: Cerita Gus Dur dan Seorang Waliyullah di Madinah

Mereka berdua berdzikir dan berdoa di luar tenda tanpa atap yang menghalangi panasnya matahari di Arafah.

Tiba-tiba Gus Dur berbisik kepada H. Masnuh: “Ji, lihatkan langit ya. Kalau langitnya terbelah segera beritahu saya dan kita langsung berdoa. Sampeyan baca doa sapu jagat aja sampai langit itu menutup kembali.”

Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba H. Masnuh tergopoh-gopoh dan bilang ke Gus Dur.

“Gus.. Gus.. Langitnya sudah membelah.”

Baca juga: Mengapa Gus Dur Dicintai?

Dan Gus Dur segera merapal doa-doa.

Begitu juga H. Masnuh membaca doa yang diperintah Gus Dur untuk membacanya, sampai langit tertutup kembali.

Setelah langit menutup kembali, Gus Dur segera mengajak H. Masnuh untuk kembali masuk tenda.

Gus Dur bilang: “ji, ayo kembali dan kita tidur aja di dalam tenda”.

Kemudian H. Masnuh menjawab : “lho Gus.. Ini waktu wukuf masih lama, kenapa kok tidur?” “Gak papa, biarkan mereka terus berdzikir dan berdoa. Saya mau tidur saja. Karena langit sudah tutup”. Jawab Gus Dur sambil terkekeh khas beliau.

Baca juga: Kenapa Indonesia Tak Jadi Negara Islam? Ini Jawaban Gus Dur

Itulah tanda kasyafnya Gus Dur, hamba Allah istimewa yang bisa diberi kemampuan melihat tanda-tanda alam yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa.

Dan pada tahun 2015, setelah 20 tahun lebih peristiwa itu terjadi, air mata H. Masnuh masih saja menetes deras ketika menceritakan hal itu pada saya. Beliau masih hidup dan cerita ini bisa di crosscheck ke beliau.

Ila hadhroti ruhi Gus Dur…. Alfatehah….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here