Kisah Dakwah Abah Akbar, Dai Parmusi Paling Tua dari Maluku

327
Abah Muhammad Akbar, Dai Parmusi dan Ketua MUI Maluku Barat Daya.

Muslim Obsession – Langit Cogreg masih teramat pekat. Meski malam tinggal menyisakan sepertiganya, wilayah di sebuah sudut Bogor itu tak hendak menerima semburat fajar.

Kendati demikian, hiruk pikuk telah berlaku di Pondok Bambu. Para Dai Parmusi yang hampir tiga pekan menjadi peserta Dauroh Desa Madani mulai beringsut dari barak menuju aula yang hampir semuanya berbadan bambu.

Tak lama, sayup adzan mulai terdengar di seantero penjuru Cogreg sebagai pertanda malam telah berada di penghujung pergantian.

“Enaknya di sini ramai suara adzan,” kata seorang dai berusia paling tua. “Kalau di tempat kami, hampir tak pernah terdengar suara adzan,” sambungnya dengan nafas yang ditarik agak dalam.

Lelaki itu adalah Muhammad Akbar. Dai yang berasal dari wilayah timur Indonesia, tepatnya dari Maluku Barat Daya yang merupakan kabupaten baru di provinsi Maluku dan berbatasan dengan Timor Leste.

Tubuhnya tak lagi muda seperti dai-dai lainnya yang rerata berusia 20 hingga 35. Meski sedikit lebih renta, tetapi Abah –demikian biasanya lelaki usia 59 tahun itu disapa– memiliki suara yang melengking.

Usai adzan dikumandangkan, Abah maju ke depan menjadi imam. Tartil bacaannya, sedap suaranya, tegas pembawaannya dengan thuma’ninah yang sempurna.

Teringat ketika masa ta’aruf di hari pertama daurah. Abah memperkenalkan diri sebagai dai utusan dari Maluku Barat Daya. Memiliki perawakan yang sedikit kecil, suara yang khas kakek tua, tak disangka bahwa Abah adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) di daerahnya.

Lalu, sesi perkenalan sosok Abah ini pun menjadi luar biasa. Pengalaman yang dibagikannya sejak giat berdakwah mematri hati para dai lainnya untuk tetap mendengarkan dan kemudian terkesima.

Ya, Abah memiliki pengalaman berdakwah yang luar biasa. Asam, manis, pahit, dan getir kehidupan dakwah telah dilaluinya. Hingga tantangan serta ancaman pembunuhan untuk diri dan keluarganya pun pernah dirasakan.

Saat itu, Abah berkisah. Perjalanan dakwahnya dimulai saat ia merantau dari Nusa Tenggara Barat ke Sulawesi Tenggara. Di Kendari, tepatnya, Abah berdagang sambil menyiarkan dakwah islamiyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here