Kisah Cinta Jokowi dan Kaum Santri

629

“Penetapan hari santri nasional dilakukan agar kita selalu ingat untuk meneladani semangat jihad ke-Indonesiaan para pendahulu kita, semangat kebangsaan, semangat cinta tanah air, semangat rela berkorban untuk bangsa dan negara,” tuturnya.

Dengan mewarisi semangat itulah, kata Jokowi, para santri masa kini dan masa depan, baik yang di pesantren atau di luar pesantren dapat memperkuat jiwa religius keislaman sekaligus jiwa nasionalisme kebangsaan.

Dengan mewarisi semangat itu, para santri juga akan ingat memperjuangkan kesejahteraan, memperjuangkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dan meningkatkan ilmu pengetahuan/teknologi demi kemajuan bangsa.

“Semangat ini adalah semangat menyatukan dalam keberagaman, semangat menjadi satu untuk Indonesia. Saya percaya dalam keragaman kita sebagai bangsa, baik keragaman suku, keragaman agama, maupun keragaman budaya melekat nilai-nilai untuk saling menghargai, saling menjaga toleransi, dan saling menguatkan tali persaudaraan antaranak bangsa,” katanya.

Ya, Hari Santri memang harus didorong agar menjadi milik bersama. Menjadi milik semua orang Islam yang memang mempunyai rasa nasionalisme. Santri menjadi kata kunci bagi siapapun yang mencintai Indonesia, memahami Islam, dan kemudian menyebarkannya secara damai di Indonesia. Islam yang kemudian menghargai tradisi dan budaya, sehingga lahirlah Islam yang ramah.

Atau dalam bahasa KH. Ma’ruf Amin, santri merupakan anak-anak bangsa yang memperjuangkan Islam yang tawassuth atau moderat dan tawazun yang berarti seimbang. Para santri berada dalam posisi I’tidal atau tengah-tengah. Dia moderasi, dia ada di tengah-tengah, tidak ada di ekstrem kanan atau ekstrem kiri. (Imam Fathurrohman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here