Kisah Bung Karno Mempopulerkan Peci Hitamnya

234

Ide untuk mempopulerkan peci karena sebelumnya terjadi pembicaraan hangat di antara mereka yang menamakan dirinya kaum ‘intelijensia’. Bung Karno menyatakan, kaum ‘intelijensia’ ini selalu menjauhkan diri dari rakyat biasa yang menggunakan blangkon atau tutup kepala yang biasa dipakai masyarakat Jawa.

“Tutup kepala yang biasa dipakai orang Jawa dengan sarung, atau peci yang biasa dipakai oleh tukang becak dan rakyat jelata lainnya. Mereka lebih menyukai buka tenda daripada memakai tutup kepala yang merupakan pakaian sesungguhnya dari orang Indonesia. Ini adalah cara kaum terpelajar ini mengejek dengan halus terhadap kelas-kelas yang lebih rendah,” jelasnya.

Bung Karno memandang kaum ‘intellijensia’ tersebut sebagai orang yang ‘bodoh’ dan perlu belajar. Baginya seseorang tidak akan mampu memimpin rakyat jika tidak terjun langsung menjalin ikatan bersama rakyat kecil.

“Aku memutuskan untuk mempertalikan diriku dengan sengaja kepada rakyat jelata. Dalam pertemuan selanjutnya kuatur untuk memakai peci, pikiranku agak tenang sedikit. Hatiku berkata-kata. Untuk memulai suatu gerakan yang jantan seperti ini secara terang-terangan memang memerlukan kawan-kawan seperjuangan yang berlagak tinggi lewat semua dengan buka tenda dan rapi, semua berlagak seperti mereka itu orang barat kulit putih, aku ragu-ragu untuk sedetik,” katanya.

Ia kemudian bertanya kepada dirinya sendiri. “Jadi pengikutkah engkau, atau jadi pemimpin kah engkau? Aku pemimpin, jawabku menegaskan, kalau begitu buktikanlah, kataku pada diriku. Ayo maju, pakailah pecimu, tarik napas yang dalam dan masuk sekarang!!! Begitulah kulakukan,” tegasnya.

Bung Karno yang memasuki ruang pertemuan dengan peci hitam kemudian menjadi perhatian. Dengan peci hitam setiap orang memandangnya dengan tanpa kata-kata.

“Di saat itu nampaknya lebih baik memecah kesunyian dengan buka bicara, janganlah kita melupakan demi tujuan kita, bahwa para pemimpin berasal dari rakyat dan bukan berada di atas rakyat. Mereka masih saja memandang,” ujarnya.

Ia kemudian memulai pidatonya kepada peserta yang hadir dalam pertemuan tersebut. Dia mengatakan, Indonesia memerlukan sebuah lambang yang menjadi kepribadian bangsanya.

Dengan menunjuk peci hitam yang dipakainya, Bung Karno berujar jika peci adalah yang menjadikan sifat khas dari seseorang yang memakainya. Peci seperti yang juga dipakai oleh para pekerja Melayu adalah asli kepunyaan rakyat Indonesia.

“Namanya malahan berasal dari penakluk kita. Perkataan Belanda ‘pet’ berarti kopiah, ‘je’ maksudnya kecil. Perkataan itu sebenarnya ‘peje’. Ayolah saudara-saudara, mari kita angkat kita punya kepala tinggi-tinggi dan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia merdeka,” ajaknya.

“Pada waktu aku melangkah gagah keluar dari kereta api di stasiun Bandung dengan peciku yang memberikan pandangan yang cantik, maka peci itu sudah menjadi lambang kebangsaan bagi para pejuang kemerdekaan,” sambung Sukarno mengenang kisahnya. (arh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here