Kisah Anak 13 Tahun Nafkahi Sembilan Keluarganya

551

Kabul, Muslim Obsession – Tinggal di sebuah kamp darurat untuk orang-orang yang kehilangan tempat tinggal di ibu kota Afghanistan, membuat seorang anak yatim piatu menjadi istimewa. Apa pasal? Anak berusia 13 tahun bernama Manzur Khan itu diketahui harus berjuang memberi nafkah bagi delapan adik laki-laki dan saudara perempuannya serta ibunya.

Meski terlihat lemah dan pendiam, Manzur mulai bekerja sejak dini hari. Dia mulai berkeliling di sekitar wilayah Mazroryan sebelum toko-toko buka. Dia menawarkan jasa pengiriman barang-barang kepada pembeli dengan gerobak dorong.

Barang-barang yang dia kirim, nyatanya, sebagian besar adalah impiannya yang tidak bisa dia berikan kepada adik-adiknya dan ibunya. Jika dia beruntung, uang sebesar 3 dollar bisa dia dapatkan sebagai hasil kerja seharian yang sangat melelahkan.

Dilansir dari AboutIslam.net, Manzur menyadari dirinya tak bisa mengubah masa lalunya. Kendati demikian, dia memiliki tekad untuk mengubah masa depan keluarganya.

“Sepuluh tahun yang lalu kami harus meninggalkan rumah di provinsi Laghman. Ayah saya meninggal karena kanker, dan sekarang saya satu-satunya ‘pria’ yang merawat empat adik perempuan, tiga adik laki-laki, dan ibu saya,” katanya.

Meski usianya terbilang masih muda, Manzur tidak pernah merasa itu semua sebagai beban. Upayanya menghidupi ke sembilan anggota keluargannya itu dianggapnya sebagai tanggung jawab besar, dan dia pun ikhlas dengan apa yang dijalaninnya.

“Apapun yang kita alami merupakan takdir. Saya berharap insya Allah kesulitan seperti itu tidak akan bertahan selamanya,” ucap Manzur.

Dengan dukungan beberapa dermawan lokal, ibu Manzur mendaftarkannya ke sebuah sekolah sore, sehingga dia tidak kehilangan kesempatan belajar selain mencari nafkah untuk saudara-saudaranya.

“Saya tidak akan pernah menginginkan saudara dan saudari saya untuk tidak berpendidikan bahkan jika saya harus mengorbankan sekolah saya sendiri. Sebuah organisasi amal sekarang telah membantu mendaftarkan saya di sebuah sekolah, dan saya bahagia. Syukurlah,” kata Manzur.

Sementara itu, ibunya memiliki perasaan bangga sekaligus sedih tentang Manzur.

“Kami bertahan karena dia (Manzur), tapi dia sendiri masih kecil. Dia sekarang adalah kepala keluarga. Terkadang dia mendapatkan 100 Afghanis (2 dollar), terkadang lebih dan terkadang kurang, tapi syukurlah dia ada untuk kami,” ungkapnya.

Ibunya mengurus ketiga anak laki-laki yang lebih kecil di rumah. Di Afghanistan, kehidupan bisa sangat sulit bagi seorang janda dengan sejumlah anak yang harus dirawat, dimana pelayanan sosial dan pendidikan sangat tidak memadai karena situasi perang dan pemerintahan yang korup.

“Saya meminta pemerintah untuk datang dan membantu kami agar anak saya (Manzur) tidak berada di bawah tekanan besar,” tambah ibunya.

Bagi Malghalara, adik perempuan Manzur, saudara laki-lakinya adalah saudara laki-laki terbaik di dunia. “Saya selalu suka membaca dan menulis, dan terima kasih kepada saudara laki-laki kesayangan saya, saya bisa ke sekolah,” katanya. (Iqbal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here