Kirim Surat untuk Presiden, Ratusan Pimpinan Pergerakan Islam dan Ormas Islam Desak Kapolri Dicopot

985
UH dan API Bersatu MOB
Ketua API Bersatu Ustadz Asep Syaripudin didampingi Ketua Umum Parmusi H. Usamah Hisyam, Ketua Persaudaraan Alumni 212 Ustadz Selamat Maarif, dan Ustadz Buchori Abdul Somad menyerahkan surat kepada Presiden RI melalui Kantor Layanan Persuratan Kementerian Sekretariat Negara, Kamis (1/2/2018). (Foto: MOB/istimewa).

Jakarta, Muslim Obsession – Sekitar 150 pimpinan pergerakan Islam dan Ormas Islam yang tergabung dalam Aktivis Pergerakan Islam (API) Bersatu mengantarkan surat untuk Presiden berisi desakan pencopotan Kapolri.

Surat dimaksud diserahkan melalui Kantor Layanan Persuratan Kementerian Sekretariat Negara, Kamis (1/2/2018), usai melaksanakan Shalat Dhuhur di Masjid Cut Meutia.

Sebagai perwakilan, surat tersebut diserahkan Ketua API Bersatu Ustadz Asep Syaipudin didampingi Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) H. Usamah Hisyam, Ketua Persaudaraan Alumni 212 Ustadz Selamat Maarif, dan Ustadz Buchori Abdul Somad.

“Setelah ini kami akan ke Senayan menemui pimpinan DPR RI,” kata Usamah kepada Muslim Obsession.

Seperti diketahui, sejumlah tokoh Muslim dan pimpinan Ormas Islam meradang mendengar pernyataan Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian dalam sebuah tayangan video. Pada video yang viral sepekan terakhir itu, Tito dinilai meresahkan umat Islam.

Dalam rekaman tersebut, Kapolri antara lain mengatakan, “Para Kapolsek wajib untuk di tingkat kecamatan bersinergi dengan NU dan Muhammadiyah. Jangan dengan yang lain. Dengan yang lain itu nomor sekian. Mereka bukan pendiri negara. Mau merontokkan negara malah iya. Tapi yang sudah konsisten dari awal sampai hari ini, itu NU dan Muhammadiyah”.

Pernyataan Tito itu sontak mengundang respon negatif dari banyak kalangan, terutama ormas-ormas Islam.

Bahkan dalam pernyataan sikapnya, Rabu (31/1/2018), API Bersatu menyebut pernyataan Tito telah mengkotak-kotakkan umat Islam Indonesia, sehingga terbelah menjadi dua kubu, yaitu umat Islam yang mempertahankan NKRI dan umat Islam yang ingin merontokkan NKRI.

Sebelumnya, Ketum Parmusi H. Usamah Hisyam lebih dahulu melayangkan protes sekaligus mengecam pernyataan Tito.

Menurutnya, Tito tak pantas berbicara seperti itu, karena sebagai Kapolri, Tito seharusnya wajib menciptakan rasa aman, tenang, dan mengayomi seluruh komponen masyarakat. Bukan sebaliknya, cenderung memprovokasi dan memecah belah umat Islam,

“Pernyataan itu tidak sepatutnya disampaikan oleh seorang Kapolri jenderal berbintang empat. Tugas utama kepolisian itu mengayomi masyarakat, bukan memprovokasi,” ujar Usamah kepada pers usai menerima kunjungan mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso di kantornya di kawasan Jakarta Selatan, Senin petang (29/1/2018).

Kecaman pun datang dari pimpinan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Ketua Umum DDII Mohammad Siddik, mengaku tak habis pikir atas pernyataan Tito tersebut.

“Jika video tersebut memang benar ada nya, maka saya tidak habis pikir bagaimana mungkin pejabat sekelas Kapolri tidak tahu tentang sejarah perjuangan bangsa ini,” ujar Mohammad Siddik, Selasa (30/1/2018).

Sementara Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Tengku Zulkarnain, menuangkan kecamannya melalui surat terbuka yang diunggahnya di Facebook. Dalam suratnya, Tengku mengecam keras dan mendesak Tito untuk meminta maaf kepada umat Islam.

“Akhirnya, melalui Surat Terbuka ini saya, Tengku Zulkarnain PROTES KERAS atas pernyataan Bapak Kapolri dan meminta anda meminta maaf serta menarik isi pidato anda yang saya nilai tidak ETIS, merendahkan jasa Para Ulama dan Pejuang Islam di luar Muhammadiyah dan NU. Mencederai rasa Kebangsaan, serta berpotensi memecah belah Persatuan dan Kesatuan Bangsa dan negara Indonesia,” tulisnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here