Kiai Said: 212 Itu Gerakan Politik, Bukan Kebangkitan Islam

87
Ketua MUI yang juga Rais Aam PBNU Ma'ruf Amin (kanan) berbincang dengan Ketua PBNU Said Aqil Siradj (kiri) (Foto: Antara)

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siroj menilai aksi 212 yang sampai saat ini masih terus digelorakan merupakan gerakan politik yang dibumbui atas nama agama.

Menurutnya gerakan 212 bukanlah cermin dari kebangkitan Islam, melainkan hanya alat politik. Pihaknya punya tantangan besar untuk menjelaskan itu kepada warga NU agar umat paham.

“Menghadapi 212 menurut saya luar biasa kerasnya tantangan itu… kalau menurut saya itu bukan kebangkitan Islam, karena itu tujuannya politik yang mengatasnamakan agama,” kata Kiai Said dalam dalam wawancara Gagasan Kiai Said Menuju Muktamar NU yang diunggah TV NU belum lama ini.

Kiai Said mengatakan saat itu memang terdapat banyak orang yang tidak sepakat dengan gerakan 212. Namun, ia mengklaim satu-satunya orang yang menolak 212 secara jelas adalah dirinya.

Said menegaskan bahwa 212 bukanlah gerakan kebangkitan Islam. Sebab, kata Kiai Said, peserta 212 tidur di masjid dan melakukan ibadah shalat di lapangan. Menurutnya, itu satu bentuk contoh yang tidak benar.

“Satu-satunya orang yang bersuara keras menolak 212 adalah saya, barangkali menolak banyak tapi yang dengan ucapan yang jelas terang benderang hanya saya barangkali,” ujarnya.

Gerakan 212 mencuat pada 2017, menjelang pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta. Gerakan ini melakukan protes keras terhadap pernyataan Plt Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dinilai menistakan agama Islam.

Setelah itu, pengadilan menyatakan Ahok bersalah dan ia kalah dalam putaran kedua Pilkada DKI Jakarta.

Kiai Said mengatakan dalam momentum politik seperti Pilkada dan pemilihan legislatif, ia menjaga agar NU sebagai organisasi keagamaan bersikap netral.

Namun, kata Kiai Said, pada momentum pemilihan presiden 2019 kemarin sedikit berbeda. Sebab, saat itu, Rais Aam PBNU, Ma’ruf Amin dicalonkan sebagai wakil presiden mendampingi petahana Joko Widodo.

“Ada Rais Aam, tidak sembarangan ini, puncak tertingginya NU jadi calon Wapres, jadi kita waktu itu sulit untuk menjadikan netralitas di NU,” ujar Said. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here