KH. Noer M Iskandar Wafat, Berikut Profilnya

299

Jakarta, Muslim ObsessionInna lillahi wa inna ilaihi rajiuun, umat Islam di Tanah Air kembali berduka. Pengasuh Pondok Pesantren Ashiddiqiyah Jakarta KH Noer Muhammad Iskandar SQ berpulang ke rahmatullah pada Ahad (13/12/2020) sekitar pukul 13.41 WIB.

Informasi meninggalnya Kiai Noer tersebut disampaikan Wakil Ketua MPR yang juga Ketua Ikatan Keluarga Alumni Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (IKA Alumni PTIQ) Jakarta, Gus Jazilul Fawaid.

“Innalilillahi wainna ilaihi roojiuun, telah kembali kepada Allah swt pukul 13:41 siang ini, Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ. Beliau ahli surga, husnul khotimah insya Allah. Amiin. Pesantren Ash Shidiqiyah Kedoya Kebon Jeruk Jakarta Barat,” demikian bunyi pesan WhatsApp yang dikirimkan Gus Jazil.

Kiai Noer Iskandar wafat pada usia 65 tahun. Almarhum kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur pada 5 Juli 1955. Selain mengasuh pesantren di tengah kota di Jakarta, ia dikenal sebagai dai kondang.

Membangun Tradisi Pesantren di Ibu Kota

Kiai Noer yang juga mendirikan cabang Pesantren Asshiddiqiyah di sejumlah daerah ini merupakan putra kesembilan dari sebelas bersaudara, dari pasangan KH Iskandar dengan Nyai Robiatun.

KH Noer Muhammad Iskandar memulai pendidikannya di pesantren tradisional Sumber Beras, Banyuwangi, Jawa Timur, yang langsung di asuh oleh ayahnya sendiri KH Iskandar.

Setelah menamatkan pendidikan dasar di madrasah ibtidaiyah, tahun 1967 beliau melanjutkan ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, yang pada waktu itu di asuh oleh KH Mahrus Aly.

Dikutip dari laman resmi Pesantren Asshidiqiyah, Kiai Noer Iskandar merupakan sosok ulama yang sukses membangun tradisi keilmuan pesantren di jantung ibu kota Jakarta.

Upaya membangun pesantren di ibukota bukan tanpa perjuangan. Perjalanan dan perjuangan panjang pun harus dilalui dengan berbagai tantangan yang berat. Namun berkat dukungan dan dorongan yang begitu kuat dari Kyai Mahrus Ali, Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Kiai Noer Muhammad Iskandar, SQ pun berhasil.

“Ia banyak membuka wawasan dan cakrawala berpikir saya akan pentingnya pendidikan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia,” kata Kiai Noer tentang Kiai Mahrus Ali.

Bukan hanya itu, dalam upaya membuka cakrawala berpikir dan memahami Al-Quran, umumnya metode yang diterapkan di pesantren-pesantren berkembang dengan pendekatan dogmatis.

Akibatnya, pemahaman Al-Quran sebagai way of life seringkali menjadi terbatas dipahaminya, yaitu hanya menyentuh aspek ubudiyah. Sementara di sisi lain, kelompok akademisi yang berbasis di kampus sekuler, memahami Al-Quran dengan pendekatan rasionalistik.

Kondisi inilah yang memperkuat dirinya untuk tidak bergabung dengan pondok pesantren, baik yang didirikan ayahnya, Kiai Iskandar, maupun di Pesantren Lirboyo kediri sebagai staf pengajar, melainkan ia merantau ke Jakarta untuk kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta.

Kiai Noer Muhammad Iskandar menikah dengan Ibu Hj Siti Nur Jazilah, putri KH Mashudi asal Tumpang, Malang, Jawa Timur. Ibu Hj Nur Jazilah pernah memimpin pondok pesantren putri Cukir, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Bersama dengan beberapa teman, KH Noer Muhammad Iskandar mendirikan Yayasan Al-Muchlisin di Pluit sebelumnya menempati sebidang tanah di bilangan Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Beliau mulai merintis lembaga pendidikan pesantren seadanya. Namanya Asshiddiqiyah.

Pesantren ini dirintis dengan keprihatinan, namun dalam keprihatinan ini ia punya keyakinan yang cukup kuat, bahwa kelak lembaga pendidikan ini akan bisa maju dan berkembang.

Bahkan kini, di Kedoya, dari lahan wakaf yang seluas 2000 meter, telah berkembang menjadi 2,4 ha, yang di Batu Ceper sudah berkembang menjadi enam hektare, yang di Cilamaya menjadi 11 Hektare dan yang di Cijeruk menjadi 42 hektare.

Semua cabang-cabang ini sudah dalam perencanaan besar untuk pengembangan Asshiddiqiyah masa depan. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here