KH Ma’ruf Amin, Sang Kiai dan Guru Bangsa

1056

Tahun 2017 ini nama KH Ma’ruf Amin melejit dan kerap menghiasi pemberitaan media massa. Utamanya saat dirinya menjadi salah seorang saksi dalam kasus penistaan agama yang dilakukan oleh eks Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Kapasitas KH Ma’ruf Amin sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadikannya saksi dalam kasus tersebut.

Pada kesempatan itu, oleh Ahok, KH Ma’ruf Amin sempat dituding memberikan keterangan yang tidak semestinya. Meski langsung dianulir dan meminta maaf, namun pernyataan Ahok kadung memantik kecaman massif dan protes umat Islam.

Tak hanya rakyat Indonesia, bahkan Presiden Joko Widodo pun mengungkapkan rasa kesalnya dengan emosi yang tinggi saat mendengar ucapan Ahok kepada KH Ma’ruf Amin. Figur KH Ma’ruf Amin yang merupakan seorang pimpinan para ulama di tanah air dipandang umat Islam sebagai sosok yang tak semestinya diperlakukan rendah.

Bagi umat Islam tanah air, nama KH Ma’ruf Amin sudah sangat akrab. Pengasuh Pondok Pesantren AlnNawawiyah, Banten, ini dikenal sosok guru bangsa dan kiai yang moderat, pemikir, ramah, dan sejuk. Kendati demikian, ia juga tegas dalam memegang prinsip, terlebih yang terkait dengan syariat Islam.

Jauh sebelum menjadi pimpinan tertinggi di MUI, lelaki kelahiran Tangerang pada 11 Maret 1943 itu dikenal sebagai ulama ahli fiqh yang disegani. Karena keilmuannya itu, KH Ma’ruf Amin pernah didaulat menjadi Ketua Komisi Fatwa (2000-2005) yang bertanggung jawab pada penerbitan fatwa MUI. Sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI, beliau kerap tampil untuk merespon beragam persoalan yang sedang dihadapi umat.

“Pancasila justru wujud nyata peran agama dalam kehidupan bangsa Indonesia,” — KH Ma’ruf Amin.

Selain menjadi Ketua Umum MUI untuk periode 2015-2020, saat ini KH Ma’ruf Amin juga menduduki jabatan tertinggi di Nahdlatul Ulama (NU). Di Ormas Islam terbesar di tanah air ini, eks anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2007-2014) tersebut juga menjabat Rais ‘Am atau Ketua Umum dalam arti sebenarnya untuk periode 2015-2020. Jabatan ini membuat mantan Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menjadi ulama yang paling dihormati di kalangan Nahdliyin.

Tahun ini, tepatnya pada Rabu, 24 Mei 2017, KH Ma’ruf Amin dianugerahi gelar Guru Besar dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang di bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syariah. Prosesi penganugerahan gelar guru besar ini sangat istimewa karena turut dihadiri Presiden Joko Widodo dan sejumlah menteri. Orang nomor satu di Indonesia ini secara khusus hadir sebagai undangan dalam acara pengukuhan.

Kehadiran Presiden Jokowi seolah menegaskan keberpihakan KH Ma’ruf Amin pada komitmen pemerintah untuk ‘menjaga’ Pancasila. Pada sejumlah kesempatan, mantan Ketua Dewan Syari’ah Nasional (DSN) ini memang berulang kali menegaskan bahwa pembahasan Islam dan negara di tanah air telah usai. Baginya, Pancasila adalah solusi kebangsaan atau hulul wathaniyah yang menjadi titik kesepakatan dan kompromi dalam berbangsa dan bernegara. Bahkan, roh agama menjadi kekuatan besar yang mengilhami kelahiran Pancasila itu.

“Pancasila justru wujud nyata peran agama dalam kehidupan bangsa Indonesia,” kata KH Ma’ruf Amin, seperti dikutip banyak media untuk menjawab kelompok anti-Pancasila.

Penghormatan umat Islam terhadap penerima penghargaan di Global Islamic Finance Award (GIFA) Lifetime Achievement Award 2016 ini tak melulu karena keilmuan dan jabatannya di MUI maupun NU. Nyatanya, lelaki yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng ini juga dihormati sebagai cicit dari Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani, ulama besar asal Banten yang keilmuannya diakui para ulama dan umat Islam di dunia internasional.

Syaikh Nawawi Al-Bantani diketahui pernah menjadi Imam Masjidil Haram. Beliau juga dijuluki “Imam Nawawi Atstsani” merujuk kepada ahli hadits Imam Nawawi. Oleh para ulama Indonesia, Syaikh Nawawi Al-Bantani yang hidup tahun 1730 hingga 1813 ini dijuluki sebagai Bapak Kitab Kuning Indonesia. Ratusan kitab yang pernah ditulisnya semasa hidup menjadi rujukan para ulama dunia dan para santri di tanah air.

Seperti leluhurnya, KH Ma’ruf Amin yang juga merupakan Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, itu pun memiliki banyak karya. Salah satu yang menjadi rujukan adalah buku bertajuk “Fatwa dalam Sistem Hukum Islam”. Buku ini dianggap sebagai landasan teori dan alat untuk membaca lebih lengkap fatwa-fatwa yang dihasilkan MUI. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here