KH Kasan Besari, Guru Para Tokoh Nasional

201
Langgar Kiai Kasan Besari
Langgar KH Kasan Besar. (Foto: Claude Guillot)

Jakarta, Muslim Obsession – Sejarah perjuangan para tokoh nasional dan agamawan sering tidak lepas dari peranan seorang ulama atau kiai. Para ulama atau kiai ini sudah banyak memberikan kontribusi demi tegaknya negeri. Salah satu kiai yang konsen dalam melawan penjajahan Belanda adalah KH Kasan Besari.

Mungkin sebagian masyarakat Indonesia belum banyak yang kenal dengan sosok kiai satu ini. Padahal karena keilmuannya Pesantren Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur, kemudian dikenal sebagai salah satu pemasok pemikir dan pemimpin negeri ini.

Bahkan menurut Abdurrahman Wahid, sebagaimana dikutip Abdul Munir Mulkhan dalam Reinventing Indonesia, ada dua muara kepemimpinan nasional. Pertama jika bukan datang dari dari raja-raja Jawa, maka kedua datang dari seorang Kia, seperti Kasan Besari.

Selain pemikir Kasan Besari, juga dikenal seorang sufi Jawa yang kuat dengan nilai tradisi agama. Elite Karajaan Mataram pun sampai jatuh hati mempercayakan Ronggowarsita untuk belajar agama kepada Kasan Besari di Pondok Tegal Rejo. HOS. Tjokroaminoto juga memiliki ikatan darah dari kiai sebagai cicit.

Pesantren Tegalsari sendiri dibangun kakeknya, Mohamad Besari. Menurut penelusuran Claude Guillot dalam “Le rôle historique des perdikan ou villages francs: le cas de Tegalsari,” Archipel, Vol. 30, 1985, Mohamad Besari adalah santri sekaligus menantu Kiai Danapura di Setana, Ponorogo.

Setelah Kiai Danapura wafat, perjuangan dakwah Islam diteruskan Mohammad Besari dengan membuka daerah yang kemudian dinamai Tegalsari. Mohamad Besari memberikan pengajian untuk santri dan keturunannya di rumahnya. Tapi, pengaruhnya masih terbatas di desa-desa sekitar.

Baru pada masa Kasan Besari, Pesanten Tegalsari semakin luas pengaruhnya. Dia tenar sebagai ulama yang cerdas. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah di Jawa. “Di sinilah anak-anak dari pesisir utara Jawa pergi untuk melanjutkan pelajarannya,” tulis Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning dan Pesantren dan Tarikat.

Survei Belanda tentang pendidikan yang diadakan pada 1819 menyimpulkan bahwa Tegalsari merupakan salah satu tempat penting penyebaran Islam.

Selain mumpuni dalam pengetahuan agama, Kasan Besari juga memiliki kemampuan politik. Ia pernah menghelat acara maulid Nabi Muhammad di Masjid Agung, Surakarta, pusat Kerajaan Mataram. Kasan Besari dan lima ratus santrinya melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad dalam Barzanji.

Kasan Besari, kemudian, diambil mantu oleh Pakubuwana III, dinikahkan dengan putrinya yang bernama Murtosiyah. Sejak saat itu Kasan jadi bagian keluarga kerajaan dan, karena itu, mendapat julukan Kanjeng Kyai Kasan Besari.

Pamornya meningkat pesat. Pesantrennya dijadikan tempat penggemblengan para pangeran dan keluarga raja. “Tidaklah aneh jika Pesantren Tegalsari menjadi tempat penting bagi pengajaran Islam untuk elite politik dan keluarga di Kerajaan Mataram,” tulis Jajat Burhanudin dalam Ulama dan Kekuasaan.

Bahkan pujangga Surakarta Yasadipura mengirimkan Bagus Burhan untuk mengaji kepada Kasan Besari. Selesai mengaji di Tegalsari, Bagus kembali ke Mataram dan menulis banyak karya sastra, seperti Serat Kalathida. Di kemudian hari dia dikenal sebagai Ranggawarsita, pujangga penghabisan Jawa.

HOS Tjokroaminoto sebagai keturunan Kiai Kasan Besar kemudian tumbuh menjadi tokoh nasional mewarisi darah sang kakek. Tjokro juga lalu dikenal sebagai gurunya Sukarno, Semaoen, SM Kartasuwirjo, dan Tan Malaka. Tjokro disebut Raja Jawa tanpa mahkota. Pemikiran tentang Islam dan sosialismenya membuat para pejuang kemerdekaan ini belajar dari Tjokro. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here