KH Aqil Siroj: Santri NU Terpapar Radikalisme, Keluarkan!

360
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj.
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, jika ada mahasiswa atau santri NU terpapar radikalisme, mereka harus dikeluarkan. Menurutnya, mahasiswa atau santri seperti ini membahayakan persatuan.

Kiai Said menjelaskan, fenomena saat ini lebih memprihatinkan karena pelaku yang merusak peradaban bukan hanya orang-orang yang tidak berpendidikan, tetapi juga dilakukan kalangan terdidik.

Hal itu terbukti dari banyaknya hasil riset yang menunjukkan banyak mahasiswa terpapar radikalisme melalui doktrinasi di kampusnya.

“Jika ada mahasiswa atau santri di lingkungan NU yang terpapar radikalisme agar dikeluarkan saja, karena membahayakan persatuan,” tegas Kiai Said di Jakarta Pusat, Senin (29/7/2019).

Alumnus Universitas Ummul Qura Makkah ini memaparkan, agama sejatinya harus digunakan untuk membangun peradaban. Bukan malah dipakai untuk memecah persatuan, seperti dengan membuat hoaks, fitnah, dan menebarkan kebencian. Karena itu merupakan tindakan yang salah.

“Jadi yang sebenarnya agama itu untuk membangun peradaban, eh belakangan malah dijadikan alat untuk merusak peradaban: tempat mencaci maki, tempat menyebarkan hoaks, tempat menyebarkan fitnah atas nama agama. Ini jijik banget ini. Jijik banget kita melihatnya,” kata Aqil Siroj.

Menurutnya, NU sejak 1936 telah berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai negara damai sekali pun tidak menggunakan negara agama Islam. Kemudian di Muktamar NU yang diselenggarakan di Situbondo pada 1984, NU menegaskan komitmennya dengan menerima empat pilar, yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-undang Dasar 1945.

“Jadi tidak boleh warga NU ada yang bermimpi menjadikan Indonesia sebagai negara Islam (formal),” ujarnya.

Ia mempersilakan kelompok yang tidak mau menerima Pancasila dan tiga pilar lainnya untuk tinggal di negara lain. Sebab, warga negara Indonesia dalam menjalani kehidupan harus sesuai dengan konstitusi yang berlaku.

“Satu-satunya yang kita anggap konstitusional adalah yang berdasarkan Pancasila. Kalau tidak (mau Pancasila), silakan pilih pindah ke Afghanistan,” pungkasnya. (Way)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here