Ketum PBNU: NU dan PDI-P Saling Dukung dan Menguatkan

424
Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj (Foto: Istimewa)

Jakarta, Muslim Obsession – Ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), memiliki hubungan yang sangat baik dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Bahkan seperti diakui Ketua Umum Pengurus Besar (PB) NU KH. Said Aqil Siradj, organisasi yang dipimpinnya itu memiliki hubungan yang dekat, saling mendukung dan menguatkan. Menurutnya, NU dan PDI-P sudah sering sejalan sejak Indonesia berdiri dan merdeka.

“Antara NU dan PDI-P yang nasionalis sangat-sangat bersahabat. Jika seandainya tidak bergandengan santri dan nasionalis, belum tentu merdeka Indonesia,” kata Said Aqil di hadapan ratusan santri Pondok Pesantren Al Tsafaqah di Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa (8/10/2019) malam.

Lebih lanjut, ia bercerita, dulu Bung Karno selalu meminta masukan dari para Kiai NU. Salah satunya adalah Wahab Chasbullah yang ditemui Bung Karno pada 1948. PDI-P kata dia, adalah partai yanh meneruskan perjuangan Bung Karno.

Said Aqil menjelaskan, saat awal kemerdekaan kondisi negara sedang berada di ambang perpecahan. Dari pertemuan Wahab Chasbullah dan Bung Karno, lahirlah istilah halal bihalal yang terus dipakai hingga saat ini.

“Saat itu terminologi halal bihalal muncul dari Kiai Wahab guna menjawab permintaan Bung Karno untuk adanya silaturahmi antartokoh,” ucap Said Aqil.

Pada kesempatan itu, di hadapan para santri, Said Aqil menegaskan bahwa NU menolak NKRI bersyariah. Ia menceritakan kisah saat KH Wahid Hasyim ber-istikharah dan setuju dihapusnya tujuh kata dari Piagam Jakarta. Dengan sebuah visi bahwa lebih penting memastikan Indonesia yang kuat terlebih dahulu.

Menurutnya, yang lebih penting adalah justru NU dan nasionalis memang sudah ada sejak NKRI berdiri. “Bahwa NKRI, Pancasila, dan UUD 1945 sudah final. Maka lebih baik kita isi saja kemerdekaan ini dengan amal-amal Islam,” tutur Said Aqil.

“Jadi persahabatan NU dengan kaum nasionalis sangat penting harus kita jaga. Kalau tidak, nanti kita seperti Timur Tengah,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP PDI-P Hasto Kristiyanto mengatakan, ada sejarah panjang antara Soekarnois dan Nahdliyin. Karena itu, bisa dipahami banyak pihak yang tak senang ketika keduanya bersatu.

“Ketika Soekarnois dan Nahdliyin bersatu, banyak pihak tidak senang. Kita harus menjawab tantangan ini bersama-sama,” kata Hasto.

“Maka fitnah bahwa PDI-P anti Islam sudah jelas tak benar. Bagaimana mungkin anti Islam, terbukti PDI-P dekat dengan NU,” sambungnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here