Ketum Parmusi Desak Tito Mundur dari Kapolri

9405
Usamah Hisyam
H. Usamah Hisyam.

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) H. Usamah Hisyam mendesak Jenderal Pol Tito Karnavian mundur dari jabatan Kapolri. Usamah menilai Tito tak mampu menciptakan rasa aman dan nyaman di tengah-tengah masyarakat, khususnya umat Islam sebagai golongan mayoritas di negeri ini.

“Saya perhatikan, sejak Pak Tito menjabat Kapolri Juli 2016, banyak terjadi kriminalisasi terhadap ulama, ustadz, dan aktifis pergerakan Islam,” ujarnya.

Bahkan, lanjutnya, ia tak habis pikir belakangan ini terjadi tindak kekerasan hingga pembunuhan terhadap sejumlah ustadz di beberapa daerah, tetapi aparat keamanan tidak melakukan langkah hukum yang signifikan untuk memberikan perlindungan, rasa aman dan rasa nyaman, khususnya bagi para ulama dan ustadz di Tanah Air.

“Ini kan seperti membiarkan teror kepada ulama, ustadz, dan aktifis pergerakan Islam,” tandasnya.

Menurut mantan bendahara Reuni 212 ini, apa yang terjadi sekarang ini sebuah kemunduran. “Ini kemunduruan bagi potret Kepolisian RI di mata masyarakat, khususnya umat Islam,”  ujar Usamah di Parmusi Center Jakarta Selatan Kamis (9/2/2018) siang ketika ditanya pers menanggapi kunjungan Kapolri menemui sejumlah pimpinan ormas Islam.

Mantan anggota Komisi I DPR RI (1997-1999) yang juga membidangi masalah pertahanan keamanan ini mengatakan, Parmusi sangat menghargai langkah Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian yang dalam satu pekan terakhir berkunjung ke PBNU dan DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) untuk menemui sejumlah pimpinan ormas Islam, menjelaskan dan meminta maaf soal pernyataannya yang viral di medsos dua pekan lalu, bahwa ormas Islam di luar NU dan Muhammadiyah malah ingin merontokkan NKRI.

“Ya, saya dengar beliau memang sudah minta maaf di hadapan sejumlah pimpinan ormas Islam, sesama muslim ya kita maafkan saja,” tandas Usamah, yang tidak hadir dalam dua pertemuan tersebut.

Ia mengatakan, awal pekan ini sudah dua kali dirinya dilobi dua tokoh yang mengaku utusan Kapolri untuk mengundang dirinya bertemu Direktur Intelkam Mabes Polri, dan juga makan siang bersama Kapolri yang direncanakan Kamis (9/2/2018). Selain itu ia diundang untuk hadir dalam pertemuan dengan Kapolri di DDII Rabu petang (8/2/2018).

“Terus terang saya keberatan. Saya minta Kapolri tunjukkan dulu political will untuk SP3 kan kasus para ulama, ustadz, dan aktifis pergerakan Islam, terutama Habib Rizieq agar bisa segera kembali ke Tanah Air dengan jaminan terbuka tanpa penahanan. Selain itu setop segera dan beri sanksi hukum kepada mereka yang meneror ulama, ustadz, dan aktifis pergerakan Islam. Kalau tidak bisa, dengan segala hormat Pak Tito mundur saja sebagai Kapolri. Karena kasihan kepolisian, namanya kian tercoreng di tengah-tengah umat. Kan masih banyak Pati Kepolisian yang punya banyak pengalaman tugas, dan tidak kalah bagusnya dari pak Tito,” kata Usamah.

Ketika ditanya wartawan, mengapa dirinya begitu yakin Kapolri yang harus bertanggung jawab penuh terhadap sikon keamanan yang menimpa para ustadz sehingga mendesak Kapolri mundur, Usamah mengungkapkan, sulit bagi dirinya untuk meyakini bahwa tindak kriminalisasi yang terjadi selama ini seakan-akan atas sepengetahuan Presiden RI Joko Widodo, seperti yang disinyalir di media sosial selama ini.

“Wong saya sudah lima kali bertemu empat mata dengan Presiden di Istana, mempersoalkan kriminalisasi ulama. Silakan cek ke Presiden. Beliau menegaskan berkali-kali, beliau tidak pernah merasa melakukan apalagi menginstruksikan kriminalisasi ulama. Masak saya gak percaya omongan Presiden,” ungkapnya.

Ia lantas menyampaikan kata-kata Presiden dengannya. “Pak Usamah, saya ini Presiden Republik Indonesia yang dipilih rakyat secara langsung. Kekuatan saya hanya satu, ada pada rakyat. Saya paham, di belakang Pak Usamah ini ada Habib Rizieq Shihab, ada alumni 212 yang jutaan orang. Jadi mana mungkin sebagai Presiden saya kriminalisasi ulama, yang punya jutaan pengikut? Selama ini saya hanya menerima laporan. Pemerintah tidak mungkin melakukan intervensi hukum,” ceritanya, mengutip kata-kata Presiden dengannya.

Atas dasar dialognya dengan Presiden tersebut, Usamah mengkaji, kemungkinan besar selama ini terjadi kontra intelijen yang hendak membenturkan umat Islam dengan pemerintah, khususnya Presiden RI.

“Siapa yang lakukan kontra intelijen itu, wallahu a’lam,” ujarnya. “ini yang harus diwaspadai. Ada tujuan-tujuan politis. Umat Islam tak boleh terpancing, tak boleh dijadikan korban. Sebaliknya, Kapolri sebagai penanggung jawab Kamtibmas di Republik ini, harus bisa menjawab semua persoalan ini agar jelas. SP3 kan semua kasus ulama, terutama Imam Besar Habib Rizieq Shihab. Kalau tidak bisa memberikan rasa aman kepada ulama, ustadz, dan aktifis pergerakan Islam, ya Pak Tito mundur saja sebagai Kapolri,” tutur Usamah, yang mengaku saat Tito diangkat sebagai Kapolri, ia sangat mengaguminya sebagai sosok the rising star. (Imam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here