Ketua Umum MUI: Alhamdulillah, Idul Fitri 1439 H Berjalan Khidmat

730

Tangerang Selatan, Muslim Obsession – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Ma’ruf Amin mengungkapkan rasa syukurnya di hari raya Idul Fitri 1439 H. Demikian dituturkan Kiai Ma’ruf saat bersilaturahim di kediaman Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI) H. Usamah Hisyam di kawasan BSD, Tangerang Selatan, Jumat (15/6/2018).

Menurut Kiai Ma’ruf, Idul Fitri tahun ini dirayakan dengan khidmat dalam suasana kefitrian. Meskipun, kata dia, kondisi bangsa ini masih dirundung keprihatinan lantaran masih banyak terjadinya masalah kemungkaran di negeri ini.

“Hari ini kemungkaran masih terjadi. Seperti penyalahgunaan narkoba, semakin meningkatnya kejahatan kriminal, belum tuntasnya penanganan radikalisme dan terorisme,” ujar Kiai Ma’ruf yang bertindak sebagai khatib shalat Idul Fitri Masjid Asy-Syarif Al-Azhar BSD City, Tangsel.

Kiai Ma’ruf Amin juga menyayangkan banyaknya fenomena tidak bertanggung jawabnya pengguna sosial media sehingga memproduksi dan menyebarkan informasi yang berdampak negatif, ujaran kebencian, fitnah, ghibah, namimah, dan bullying kepada pihak lain.

Kendati demikian, lanjutnya, hal itu tidak mempengaruhi kekhidmatan umat Islam dalam menjalankan puasa Ramadhan dan melaksanakan hari raya dengan penuh kefitrian. “Alhamdulillah, ini semua merupakan bukti bahwa rahmat dan kasih sayang Allah Swt. senantiasa tercurah kepada kita, umat Islam di Indonesia, karena itu, patutlah kita mensyukuri semua karunia tersebut,” tegasnya.

Maka dari itu, tegasnya, salah satu cara untuk mensyukurinya adalah dengan senantiasa berusaha melakukan perbaikan (Al-Ishlah), karena pada dasarnya agama Islam adalah agama perbaikan (din al-ishlah), dan risalah Islamiyah merupakan risalah perbaikan (risalah ishlahiyah).

“Perbaikan yang dikehendaki oleh Islam adalah perbaikan yang komprehensif, perbaikan yang menyeluruh, bukan hanya perbaikan dalam akidah dan ibadah saja, tapi juga perbaikan dalam mu’amalah, baik yang berkaitan dengan ekonomi, sosial, budaya, hukum dan politik, serta perbaikan akhlak dan perilaku,” tandasnya.

“Selain bersifat menyeluruh, perbaikan yang dimaksud oleh Islam sifatnya harus berkelanjutan serta terus-menerus, karena prinsip perbaikan dalam Islam adalah perbaikan menuju yang lebih baik,” pungkasnya. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here