Ketua DPD Imbau Masyarakat Tetap Solid Hadapi Masalah yang Terjadi

160
Ketua DPD RI, LaNyalla Mahmud Mattalitti.

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua DPD RI LaNyalla Mahmud Mattalitti mengimbau masyarakat Indonesia untuk tetap kompak, menjaga kerukunan dan solidaritas agar dapat melewati beragam masalah yang terjadi saat ini.

Hal ini dikemukakan LaNyalla untuk menanggapi sejumlah kasus yang terjadi di Tanah Air, seperti mulai menyebarnya virus Corona hingga aksi penyerangan terhadap tempat ibadah.

“Masyarakat harus tetap tenang dan tidak panik dalam menghadapi pengumuman pemerintah tentang adanya sejumlah warga masyarakat yang telah terjangkit virus Corona, sebab pemerintah dan penyelenggara negara lainnya akan senantiasa bekerja keras untuk mengatasi masalah ini,” seru LaNyalla melalui siaran persnya, Rabu (4/3/2020).

LaNyalla mengatakan, virus Corona yang kini masuk ke Indonesia dimana ada dua orang warga yang masih dalam pemantauan khusus, telah menambah beban pikiran penyelenggara negara. Oleh karenanya ia meminta jangan ada lagi masalah lainnya di masyarakat yang dapat semakin memperkeruh keadaan.

Ia meminta masyarakat agar memercayakan penanganan masalah ini kepada institusi-institusi negara yang kini sedang giat meresponi gejala Corona ini; dan menaati arahan yang telah disampaikan oleh pejabat-pejabat yang berwewenang.

Di sisi lain, LaNyalla juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap tersendatnya kegiatan renovasi Gereja Katolik Santo Joseph Tanjung Balai Karimun.

Meskipun pembangunannya sudah mendapat semua izin yang dipersyaratkan Pemda setempat, namun masih juga dihentikan oleh oknum-oknum yang bermain politik dengan menggiring masyarakat untuk berdemo dan menuntut agar semua izin dimaksud dicabut oleh Pemda.

“Negara harus hadir dengan jalan memberikan kepastian hukum dan perlindungan bagi semua warganya, terlepas dari latar belakang suku, agama, dan budaya, sebab UUD 1945 menjamin kebebasan setiap warga negara untuk beribadah menurut keyakinannya masing-masing,” tegas LaNyalla.

“Negara tak boleh tunduk pada tekanan massa yang secara tak adil memaksakan kehendak dan tak mengindahkan hukum, sebab Indonesia adalah negara hukum dimana setiap warganya sama kedudukannya di depan hukum,” imbuhnya menegaskan.

LaNyalla juga menyoroti kasus perusakan mushala di Perum Agape Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara pada 26 Januari silam oleh dua kelompok masyarakat yang mengklaim dirinya sebagai anggota Brigade Yoshua dan Brigade Manguni.

“Kasus penyerangan terhadap tempat ibadah agama manapun tidak dibenarkan dan patut dikecam oleh semua warga bangsa yang mencintai tegaknya NKRI, Pancasila, dan UUD 1945,” tegas LaNyalla.

Menurutnya, tindakan-tindakan tak beradab semacam itu tak boleh terulang lagi. Oleh sebab itu ia meminta aparat Pemda, kepolisian, serta Forum Komunikasi Antarumat Beragama perlu meningkatkan kewaspadaan untuk memonitor semua gejolak serta potensi gangguan keamanan di semua daerah di Tanah Air.

LaNyalla menambahkan bahwa semua perbedaan dalam masyarakat, baik itu perbedaan etnis maupun agama adalah kehendak dan anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh sebab itu itu harus disikapi sebagai sumber kekuatan dan kekayaan budaya bangsa, bukan alasan untuk memecah-belah bangsa ini, karena Indonesia membutuhkan keamanan dan kekompakan untuk menyongsong masa depan.

“Keamanan Indonesia merupakan gabungan dari kondisi aman dan tenteram di semua wilayah di Tanah Air. Gangguan keamanan terhadap satu daerah di negeri ini merupakan gangguan keamanan terhadap seluruh wilayah NKRI. Karena itu pemerintah dan semua aparatur negara harus meningkatkan kewaspadannya guna mencegah terjadinya ledakan instabilitas di daerah manapun di negeri ini,” tandas LaNyalla. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here