Ketika Raja Najasyi Bertanya tentang Isa bin Maryam

157

Muslim Obsession – Amru bin Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah segera pergi usai mendengar jawaban Raja Najasyi yang tidak akan menyerahkan para kaum Muhajirin yang berada di Habasyah kepada perwakilan Quraisy.

Amru bin Ash berkata kepada Abdullah bin Abu Rabi’ah, “Demi Allah, besok aku benar-benar akan mendatangi mereka dengan sesuatu seperti yang bisa memusnahkan tanaman mereka.”

Tetapi rencana Amru bin Ash tidak mendapatkan dukungan dari Abdullah bin Abu Rabi’ah. Sebab di antara para Muhajirin itu masih termasuk keluarga kaum Quraisy sendiri.

BACA JUGA: Fakta Tentang Pasukan Bergajah Milik Abrahah

Namun tekad Amru bin Ash sudah bulat. Keesokan harinya dia betul-betul menemui kembali Raja Najasyi dan berkata, “Wahai Tuan Raja, sesungguhnya mereka menyampaikan perkataan yang tidak bisa dianggap enteng tentang Isa bin Maryam.”

Setelah mendengar perkataan Amru bin Ash, Raja Najasyi pun mengirim utusannya kepada kaum Muhajirin untuk menanyakan apa pendapat mereka tentang Isa bin Maryam.

Mendapatkan pertanyaan itu kaum Muhajirin terkejut dan risau. Tetapi mereka semua sudah sepakat untuk berkata apa adanya, apapun yang terjadi. Merekapun akhirnya menghadap Raja Najasyi dan menjelaskan pertanyaannya itu.

BACA JUGA: 4 Jenis Burung yang Disebutkan Al-Quran, No. 2 Bentuknya Cantik!

“Kami katakan seperti yang dibawa Nabi kami, bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Roh-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, sang perawan suci,” jawab Ja’far bin Abu Thalib.

Raja Najasyi kemudian memungut potongan dahan dari tanah kemudian berkata, “Demi Allah, Isa bin Maryam tak berbeda jauh dengan apa yang engkau katakan, seperti potongan dahan ini.”

Mendengar pernyataan rajanya, para uskup Habasyah kemudian mendengus. Sampai-sampai Raja Najasyi bisa mendengar dengusan mereka di telinganya.

“Demi Allah, sekalipun kalian mendengus,” ujarnya.

BACA JUGA: Dewa Hubal, Kaum Musyrik, dan Ahlul Kitab

Kemudian Raja Najasyi memerintahkan kaum Muhajirin untuk kembali ke tempat tinggal mereka. Dia menjamin keamanan mereka selama berada di Habasyah, tak akan dibiarkannya orang-orang Muslim disakiti ataupun dihina.

“Siapa yang mencaci kalian adalah orang yang tidak waras. Sekalipun aku mempunyai gunung emas, aku tidak suka jika menyakiti salah seorang di antara kalian,” ujarnya.

Lalu Najasyi pun memerintahkan para pengiringnya untuk mengembalikan hadiah-hadiah yang dibawa Quraisy. Dia sama sekali tidak merasa membutuhkan hadiah itu.

BACA JUGA: 2 Alasan Raja Abrahah Menyerang Ka’bah

“Demi Allah, Dia tidak meminta uang sogokan dariku tatkala Dia mengembalikan kerajaan ini kepadaku. Apakah aku pantas mengambil uang sogokan setelah mendapatkan kekuasaan ini? Orang-orang tidak perlu patuh kepadaku, sehingga aku pun tidak harus patuh karenanya,” kata raja yang bijak itu.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, yang meriwayatkan peristiwa ini mengatakan, kedua utusan Quraisy itu kemudian beranjak dari hadapan Raja Najasyi dengan muka masam karena apa yang dibawanya tertolak.

Kaum Muslimin yang berhijrah di negeri Habasyah pun menetap di sana dengan suasana yang menyenangkan, berdampingan dengan tetangga yang menyenangkan pula.

Sumber: Sirah Nabawiyah/Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri/Pustaka Al-Kautsar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here