Ketika Imam Syafii Mendebat Imam Malik Soal Rezeki

8807
Burung
Ilustrasi: Burung mencari rezeki untuk menafkahi anaknya.

Jakarta, Muslim Obsession – Meski meyakini bahwa urusan rezeki merupakan hal yang pasti dari Allah ‘Azza wa Jalla, namun kebanyakan orang masih gelisah memikirkannya. Utamanya, bagaimana cara untuk mendapatkan rezeki tersebut.

Hal demikian, rupanya pernah juga menjadi perdebatan Imam Maliki dan Imam Syafii yang merupakan guru dan murid.

Cerita bermula ketika dalam sebuah majelis ilmu, Imam Maliki yang merupakan guru dari Imam Syafii mengatakan bahwa sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab. Seseorang cukup bertawakkal dengan benar, niscaya Allah akan memberikannnya rezeki.

“Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya,” demikian kira-kira pendapat Imam Malik.

Imam Malik menyandarkan pendapatnya itu berdasarkan sebuah hadirs:

لَو أنكُم توكَّلْتُم علَى اللهِ حقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُم كما يَرْزُقُ الطَّيْرَ تغدُو خِمَاصًا وتَروحُ بِطَانًا

“Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal niscaya Allah akan berikan rizki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang,” (HR. Ahmad).

Menanggapi hal itu, Imam Syafii yang rupanya memiliki pandangan lain. Ia pun segera melayangkan pendapatnya.

“Ya Syaikh, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” kata Imam Syafii.

Melalui pengandaian tadi Imam Syafii menyampaikan pendapat bahwa untuk mendapatkan rezeki dibutuhkan kerja keras. Rezeki tidak datang sendiri, melainkan harus dicari lalui didapatkan melalui sebuah usaha.

Hingga titik itu, guru dan murid tersebut bersikukuh pada pada pendapatnya masing-masing.

Hingga suatu ketika, saat Imam Syafii berjalan-jalan, ia melihat serombongan orang tengah memanen anggur. Ia pun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

Imam Syafii senang bukan main. Ia senang bukan karena mendapatkan anggur. Ia senang karena memiliki cara untuk menyampaikan kepada Imam Malik bahwa pendapatnya soal memperoleh rezeki itu benar.

“Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana mungkin mereka akan mendapat rezeki? Seandainya saya tak membantu memanen, niscaya saya tidak akan mendapatkan anggur”.

Dengan bergegas Imam Syafii menjumpai Imam Malik yang tengah duduk santai. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, Imam Syafii bercerita seraya sedikit mengeraskan bagian kalimat, “Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”

Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap pelan.

“Sehari ini aku memang tidak keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab? Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”

Imam Syafii langsung tertawa mendengar penjelasan Imam Malik tersebut. Guru dan murid itu kemudian tertawa bersama.

Begitulah, dua Imam madzhab tersebut mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.

Sejatinya, Imam Malik dan Imam Syafii mengajarkan kepada umat Islam, khususnya para ulama, bagaimana menyikapi sebuah perbedaan. Keduanya tak saling menyalahkan lalu membenarkan pendapatnya sendiri.

Islam dibangun atas ukhuwah yang menghormati perbedaan namun tetap saling berkasih-sayang. Wallahu A’lam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here