Kerinduan Ular kepada Rasulullah

90
Gua Tsur (Foto: Al-iqab.blogspot.com)

Muslim Obsession – Kisah pengorbanan para sahabat memang tiada habisnya. Dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali juga para sahabat yang lain. Mereka tak pernah memperhitungkan kerugian yang akan dihadapi, bahkan kehilangan nyawapun tak jadi masalah.

Inilah yang ditunjukkan oleh Abu Bakar As-Shiddiq Ra. Sebagai seorang sahabat kepercayaan Rasulullah Saw., ia merelakan semua yang dimilikinya demi keselamatan dan perjuangan dakwah Rasulullah Saw. Bahkan ia merelakan nyawanya terancam demi menemani Rasulullah Saw. ketika dikejar-kejar oleh para jagal Quraisy untuk dibunuh.

Kisah ini berawal dari keikutsertaan Abu Bakar bersama Rasulullah Saw. sebelum meninggalkan kota Mekkah. Saat pemuda kafir Quraisy yang berniat memenggal kepala Rasulullah kehilangan jejak Rasul dan hanya menemukan seorang pemuda bernama Ali bin Abi Thalib di bilik Rasul, Abu Bakar mendampingi Rasul bersembunyi di gua kecil di bukit Tsur.

Abu Bakar tetap setia mendampingi Nabi Muhammad menginap di dalam gua. Sebelum beliau memasuki gua, Abu Bakar dengan sigapnya mengecek dan menutup lubang-lubang yang ada di dalam gua agar mereka terhindar dari binatang buas.

Di dalam gua, mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Dalam tidurnya, Rasulullah Saw. melabuhkan kepalanya di pangkuan sang sahabat.

Di dalam gua yang dingin dan remang-remang, tiba-tiba seekor ular mendesis keluar dari salah satu lubang yang belum ditutup oleh Abu Bakar. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkan dari benaknya, karena tak ingin ia mengganggu tidur Rasulullah Saw. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih Allah Swt. itu?

Abu Bakar menutup lubang itu dengan salah satu kakinya. Lalu ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun dalam hening. Sekujur tubuh Abu Bakar terasa panas, ketika bisa ular menjalar cepat di dalam darahnya.

Abu Bakar tak kuasa menahan isak tangis ketika rasa sakit itu tak tertahankan lagi dan tanpa sengaja air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah Saw. yang tengah berbaring.

Rasulullah Saw. terbangun lalu berkata, “Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?”

“Tentu saja tidak. Saya ridha dan ikhlas mengikutimu ke mana pun,” jawab Abu Bakar.

“Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?” bertanya Rasulullah Saw. dengan bersahaja.

“Seekor ular baru saja menggigit saya, wahai Rasulullah. Lalu bisanya menjalar begitu cepat ke dalam tubuhku,” jawab Abu Bakar dengan suara tercekat.

Lalu Rasulullah Saw. berbicara kepada ular itu. ” Hai, tahukah kamu? Jangankan daging atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram kau makan.”

Dialog Rasulullah Saw. dengan ular itu menjadi mukjizat beliau, sehingga Abu Bakar mampu mendengarnya.

“Ya aku ngerti kamu. Bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih-Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga,” kata ular.

“Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut ular.

Lalu, apa kata Allah Swt.?

“Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu di sana, kekasih-Ku akan datang pada waktunya,” jawab Allah.

“Ribuan tahun aku menunggu di sini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Muhammad,” jawab ular.

“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah.

Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah Saw. meraih pergelangan kaki Abu Bakar. Dengan mengagungkan nama Allah Swt. Sang Pencipta semesta, Nabi Muhammad Saw. mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah Swt., seketika rasa sakit itu hilang tak berbekas.

Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah Saw. berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah Saw. menawarkan pangkuannya untuk beristirahat. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu. (Bal/Berbagai Sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here