Keputusan Wasit Diskualifikasi Miftahul, MUI Sebut Itu Tindakan Diskriminasi

542
Miftahul Jannah (Foto: bola.net)

Jakarta, Muslim Obsession – Keputusan wasit yang mendiskualifikasi judoka Indonesia Miftahul Jannah di Asian Para Games 2018 karena menolak untuk melepas hijab saat masuk matras adalah sebuah bentuk diskriminasi terhadap atlet muslimah.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ikhsan Abdullah dalam keterangan pers yang diterima Muslim Obsession, Selasa (9/10/2018).

Selain itu, Ikhsan meminta Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) dan Komite Nasional Indonesia (KONI) agar bisa menjelaskan kepada Internasional Olympic Paragames soal hijab. Mereka menurutnya harus paham bahwa penutup rambut bagi wanita muslim adalah sesuatu yang hukumnya wajib.

“Dalam Islam rambut adalah aurat wanita yang harus ditutup dengan hijab. Jadi penjelasan ini penting agar mereka bisa memahami dan wanita Muslim tidak terlanggar ketentuan yang diskriminatif tersebut,” katanya.

Ikhsan kemudian menjelaskan bahwa banyak cabang Olahraga yang menerima atlet wanita berjilbab, seperti silat dan volley. Oleh karena itu, dia meminta agar kasus ini tidak dibiarkan begitu saja karena bisa merugikan Indonesia pada cabang olahraga judo.

“Koni harus mempersoalkan ini secara tegas dan MUI akan melayangkan nota protes secara resmi,” tegasnya.

Untuk diketahui, Atlet blind judo putri Indonesia, Miftahul Jannah dinyatakan kalah setelah menolak melepas jilbabnya saat akan bertanding melawan wakil Mongolia, Oyun Gantulga di arena Asian Para Games 2018 Jakarta.

Dalam situs resmi Asian Para Games 2018 dituliskan, dia kalah Senin, 8 Oktober 2018, pukul 10:18 WIB di kelas 52 kilogram putri di arena judo Gedung Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat.

Atlet asal Aceh itu dinyatakan terdiskualifikasi dari Asian Para Games karena memilih mempertahankan jilbabnya. Sementara wasit pertandingan tidak memperkenankannya. Sebab, jilbab yang dikenakan Miftahul Jannah bisa membahayakan nyawanya sendiri.

“Ini memang aturan dari judo internasional, alasannya karena ditakutkan pada saat main bawah (newasa), akan ketarik dari lawannya yang bisa menyebabkan tercekik,” kata Penanggung Jawab Tim Judo Indonesia, Ahmad Bahar. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here