Kenang Masa Kecil di Aceh, Menag: Sangat Indah dan Rukun

234
Menteri Agama Fachrul Razi. (Foto: Kemenag)

Banda Aceh, Muslim Obsession – Menteri Agama Fachrul Razi mengingat masa kecilnya di Banda Aceh yang hidup dalam kerukunan dan toleransi umat beragama.

Kisah ini disampaikan Menag saat membuka gelaran dialog tokoh lintas agama dan tokoh masyarakat/adat di Aceh, Ahad (13/12/2020). Kegiatan tersebut dihadiri Kakanwil Kemenag Papua, Papua Barat, dan Maluku, beserta tokoh agama yang tergabung dalam FKUB.

Tampak hadir Sekjen Kemenag RI dan para pejabat Kementerian Agama Pusat, Stafsus Menag, Staf Ahli Gubernur Aceh beserta segenap Forkopimda Pemprov Aceh dan keluarga besar ASN Kemenag Aceh.

Dialog yang diinisiasi Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kemenag RI ini mengusung tema ‘Melalui Dialog Lintas Agama Kita Optimalkan Tugas dan Fungsi para Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat Dalam Rangka Pemeliharaan dan Penguatan Kerukunan di Aceh’.

“Saya lahir dan besar di Banda Aceh. Lingkungan saya banyak yang etnis Tionghoa dan tetangga nonmuslim. Ketika saya lulus masuk AKABRI, mereka yang berprofesi niaga menutup tokonya dan mengantar saya beramai-ramai ke stasiun,” kenang Menag, seperti dilansir Kemenag.

“Begitulah indahnya kerukunan di Aceh. Soal kerukunan di Aceh sudah selesai bahwa maayarakat Aceh sejak dulu sudah rukun dan sangat toleransi,” sambungnya.

Menag mengatakan, salah satu program prioritas Kemenag yaitu Kita Cinta Papua dan Kita Cinta Aceh. Program ini terhubung oleh sebuah jembatan emas kesetiakawanan dari Aceh, Maluku, Papua dan Papua Barat.

Program jembatan kesetiakawanan itu, lanjut Menag, adalah ikhtiar bersama untuk memajukan bidang keagamaan dan pendidikan keagamaan dari Aceh, Maluku, Papua dan Papua Barat yang dibalut semangat kerukununan dan toleransi.

“Sebagai Menteri Agama, saya senang dan bangga dengan tokoh agama, tokoh masyarakat Aceh dan FKUB yang terpangil untuk ikut serta dalam program Kita Cinta Papua,” kata Menag.

Menurut Menag, gerakan dialog tokoh lintas agama di Aceh merupakan momentum penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia berpotensi menghadapi perpecahan bila kesepakatan nasional, yaitu Pancasila, tidak dijaga dan dirawat bersama.

“Keragaman itu adalah rahmat, bukan petaka. Bagi bangsa Indonesia, keragaman adalah takdir bukan untuk ditawar melainkan diterima. Kerukunan umat beragama adalah unsur utama dalam kerukunan nasional,” tegas Menag.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada Wali Nanggroe, PYM Malik Mahmud Al-Haythar atas kepeduliannya terhadap sejarah Aceh dan membangun kerukunan umat beragama di Aceh,” tandasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here