Kemenag Tepis Isu Kain Ihram Jamaah Haji Buatan Cina

718
Polemik kain ihram jamaah haji buatan Cina (Foto: PHU)

Jakarta, Muslim Obsession – Kementerian Agama RI menepis isu soal kabar bahwa kain ihram yang dibagikan kepada jamaah haji Indonesia bukan buatan dalam negeri.

Isu berembus dari pernyataan mantan Deputi Senior Bank Indonesia Anwar Nasution menilai Menteri Agama keliru karena membeli kain ihram buatan China untuk jamaah haji Indonesia.

Tuduhan ini dibantah oleh Plt Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri yang juga Direktur Pengelolaan Dana Haji Ramadhan Harisman.

Menurut Ramadhan, jamaah haji laki-laki yang akan berangkat memang mendapatkan kain ihram, tapi bukan dari Kementerian Agama, melainkan dari Bank Penerima Setoran awal (BPS) Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH). Sedang untuk jamaah perempuan, mereka mendapatkan mukena.

“Kain ihram untuk jamaah haji reguler dibuat sendiri oleh pengrajin dengan bahan berupa benang nomor 12S dari pabrik benang di dalam negeri,” tegas Ramadhan di Jakarta dilansir dari situs Dirjen PHU, Rabu (12/9/2018).

Dijelaskan Ramadhan, benang nomor 12S merupakan benang yang juga digunakan untuk pembuatan handuk. Kain ihram yang dibagikan kepada jamaah oleh BPS, terbuat dari benang nomor 12S tersebut. Kain ihram itu ditandai dengan sablon berwarna hijau bertuliskan “Indonesia”.

“BPS melakukan kontrak pembuatan ihram dengan pengrajin dari Majalaya dan Pekalongan. Pabrik tempat pembuatan kain ihram tersebut menggunakan benang nomor 12S,” ujarnya.

Ramadhan mengakui bahwa ada juga kain Ihram yang dijual di pasaran yang berasal dari China. Namun, dia memastikan kalau kain yang diberikan BPS ke jamaah reguler buatan dalam negeri.

“Tuduhan bahwa Kementerian Agama memberikan kain ihram buatan China kepada jamaah tidak sesuai fakta,” tegasnya lagi.

Sebelumnya juga diberitakan, Mantan Deputi Senior Bank Indonesia Anwar Nasution mengatakan salah satu yang menyebabkan nilai tukar rupiah melemah yaitu keputusan pemerintah yang memberangkatkan jamaah haji dan umrah dalam jumlah yang cukup besar. Hal itu dinilai dapat menguras devisa negara. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here