Kemenag Siapkan Instruktur Nasional Moderasi Beragama

347

Tangerang, Muslim Obsession – Kementerian Agama terus berupaya untuk memperkuat pengarusutamaan moderasi beragama dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu ikhtiar yang dilakukan adalah dengan menggelar Pendidikan Instruktur Nasional Moderasi Beragama yang berlangsung empat hari, 27-31 Desember 2019.

Kegiatan yang dilaksanakan Ditjen Pendidikan Islam melalui Pendidikan Instruktur Nasional Moderasi Beragama (PIN-MB) ini diikuti 60 dosen dan 100 mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Seperti dilansir Kemenag, Senin (30/12/2019), PIN-MB dibuka Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Imam Safei. Menurutnya, kegiatan ini dimaksudkan bertujuan mendiseminasikan spirit moderasi beragama melalui institusi pendidikan tinggi.

“Produk pendidikan tinggi akan mengisi di berbagai lini profesi; mulai dari perkantoran, pendidikan, bahkan ranah agama,” ujar Imam di Tangerang, Jumat (27/12).

Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Islam Ruchman Basori berharap para alumni PIN MB dapat menjadi penyeimbang informasi di tengah masyarakat, utamanya di media sosial.

“Kementerian Agama sering menjadi objek kritikan atas kebijakan moderasi ini. Kami memerlukan energi tambahan untuk menjelaskan ke tengah-tengah masyarakat,” kata Ruchman menegaskan.

Hal senada disampaikan Ketua Pokja Moderasi Beragama Aceng Abdul Aziz. Menurutnya, PIN MB 2019 diharapkan dapat menjadi model penyiapan agen moderasi di setiap PTKI.

Kegiatan pendidikan ini menghadirkan instruktur kebangsaan pusat seperti Khamami Zada, Ahmad Rozaki, Rumadi, Marzuki, Aceng Abdul Aziz, Mahrus, A Suaedy dan lainnya. Materi yang disampaikan tekait keislaman, keindonesiaan dan kebangsaan.

“Output kegiatan adalah peserta mampu bersikap dan memiliki cara berpikir kritis dan moderat,” kata Aceng.

 

Belajar dari Muhammadiyah

Selain pelatihan dalam kelas, peserta PIN-MB juga mendapat kesempatan berkunjung ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menurut Ruchman, kunjungan ini dimaksudkan agar peserta mendapatkan bekal best practise dari yang sudah dilakukan Muhammadiyah dalam melakukan counter terhadap radikalisme.

Rombongan PIN-MB diterima Wakil Ketua Majelis Dikdasmen Didik Suhardin, Teuku Ramli Zakaria, dan Agus Tri Sundani. Kepada peserta PIN-MB, Didik Suhardi menyatakan bahwa Muhammadiyah sudah melakukan riset.

“Temuannya adalah radikalisme beririsan dengan wawasan beragama dan wawasan kebangsaan,” kata Suhardin, Ahad (29/12).

“Bagi Muhammadiyah, NKRI adalah darul ahdi was syahadah, negeri perjanjian dan persaksian,” lanjutnya.

Menurut Suhardin, Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo adalah tokoh Muhammadiyah yang turut menjadi arsitek NKRI. “Sebab itu, Muhammadiyah tidak akan berkhianat kepada NKRI karena ia yang mendirikan,” tegasnya.

Dalam hal moderatisme, sekolah Muhammadiyah menerima seluruh elemen masyarakat apa pun latar agama mereka.

“Walikota Jayapura adalah alumni sekolah Muhammadiyah dan ia tetap nonmuslim. Demikian juga Bupati Alor. Pendidikan di Muhammadiyah menanamkan ketakwaan sesuai agama masing-masing. Inilah the real of moderation,” kata Suhardin.

“Muhammadiyah melakukan tindakan preventif terhadap ancaman radikalisme. Kami tegas dan punya prinsip,” tutupnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here