Kembalinya Hagia Sophia Jadi Masjid

97
Hagia Sophia. (Foto: newsky)

Oleh: Hendrajit (Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute)

Kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid seperti di era Othoman dulu, Turki semasa Erdogan ini jadi makin menarik dalam upayanya kembali ke jatidiri bangsa. Dan baiknya kita jadikan bahan studi sebagai sumber inspirasi.

Jadi di kita jangan cuma jadi euforia keislamannya saja. Sebab kesalahan strategis Turki semasa Kemal Ataturk untuk menjadikan Turki setara dengan Barat, berarti harus jadi orang-orang modern seperti Eropa.

Nah di sinilah kesalahan fatal Kemal. Jadi modern yang berkiblat ke Barat, berarti sekularisme jadi landasan dasar falsafah negara. Efeknya kemudian merasuk ke kebudayaan Turki. Orang Turki jadi berkepribadian pecah. Orang Asia, tapi pengen diakui Eropa.

Tapi yang lebih fatal lagi dari konsep Kemal, karena harus jadi modern dan sekuler kayak Barat, yang dihancurkan Kemal bukan hak orang Turki untuk memeluk Islam. Tapi menggerus rasa keagamaan atau rasa religiusnya sebagai umat Islam.

Keputusan nasional untuk mengembalikan Hagia Sophia jadi masjid, merupakan simbol mengoreksi kebijakan Kemal yang justru paling fundamental. Mematikan rasa keagamaan, dengan memanfaatkan momentum runtuhnya dinasti Utsmani yang waktu itu memang sudah rapuh dari dalam.

Kekalahan Turki pada Perang Dunia I hanya momentum yang mempercepat keruntuhan.

Maka kembalinya Hagia Sophia jadi masjid berarti simbol kembalinya rasa keagamaan masyarakat Turki sebagai umat Muslim.

Berarti di arus bawah sadar kolektif bangsa Turki, ada banyak elemen bangsa yang bergiat pro aktif di berbagai bidang untuk menata negeri yang kala itu sempat disebut Turki sebagai orang sakit di Eropa. Kemunculan Erdogan lahir dari rahim proses ini.

Maka Erdogan begitu populer di negrinya karena personifikasi dari emosi jiwa bangsanya. Terlepas kita setuju atau atau tidak setuju pada garis politik Erdogan.

Buat Indonesia yang sedang bertekad untuk kembali ke jatidiri bangsa, Turki fenomena menarik. Layak diserap energi positifnya. Bukan euforia Islamnya. Pelajari arus besarnya, bukan buihnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here