Kelembutan Mbah Moen, Kekasaran Gus Baha, Kebingungan Saya

1728

Terutama Gus Baha, ulama yang masih muda dan cukup punya waktu menulis kitab-kitab yang menancapkan pemikirannya dengan kokoh. Gus Baha punya potensi besar mewarisi generasi masa depan dengan kitab-kitab tafsir yang monumental, seperti Buya Hamka mewarisi Tafsir Al-Azhar dan Quraish Shihab mewarisi Tafsir Al-Mishbah.

Gus Baha bisa menulis kitab tafsir seperti itu, karena selain mumpuni, para ulama Indonesia dulu telah banyak melahirkan kitab tafsir bahkan sebelum Buya Hamka dan Quraish Shihab, seperti kitab Tafsir al-Quran karya KH Hasan Mustapa Garut dan kitab tafsir Faidh al-Rahman karya KH Soleh Darat.

Pada paruh abad ke-19, kita juga punya ulama tafsir asal Banten, Syeikh Nawawi al Bantani, yang masyhur hingga ke berbagai belahan dunia melalui kitab tafsir Maraah Labiid. Tak terlupakan, dua abad lebih sebelum masa Syeikh Nawawi al Bantani, ulama Indonesia asal Aceh, Syeikh Abdur Ra’uf As Singkel, telah menulis kitab tafsir Turjuman al Mustafid.

Saya percaya Gus Baha bukan tipe ulama yang gila pencitraan di media sosial dan lupa pada kemestiannya melahirkan karya besar dari pengetahuannya yang luas. Para ulama tafsir Indonesia terdahulu, semoga bisa menginspirasi Gus Baha untuk menulis kitab tafsir dengan pendekatan konteks yang lebih mutakhir.

Nahdlatul Ulama (NU), saya yakin sekali, hingga hari ini memiliki banyak ulama unik seperti Mbah Moen dan Gus Baha yang istiqamah membangun bangsa dari kampung, dari tepian. Memajukan bangsa dengan kesederhanaan berpikir dan berprasangka baik dalam setiap hal.

Kita perlu mengapresiasinya sebagai upaya melahirkan generasi muda seperti yang dirindukan Imam Abu Hanifah, yakni mereka yang mampu duduk berdiskusi dengan penguasa, mau bertanya pada ulama, dan bisa bergaul bersama ahli hikmah.

Kini, Mbah Moen dan Gus Baha semakin menerbitkan kebingungan baru bagi saya, kebingungan dari kerinduan yang sublim pada jejak langkah para tokoh dalam roman sejarah.

Selamat beristirahat, Mbah Moen!

Selamat berkarya, Gus Baha!

 

**Chavchay Syaifullah adalah Penyair. Alumni Pesantren Daar el Qolam, Jayanti, Tangerang, Banten dan Pesantren Raudhoh al Hikam, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Aktivis Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI). Kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Rifa’i Center (RICE).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here