Kelembutan Mbah Moen, Kekasaran Gus Baha, Kebingungan Saya

1730

Penampakan prilaku guru dan murid yang sama di permukaan, belum tentu relevan dengan suksesnya pembentukan karakter murid oleh guru. Begitu ya begitu, tapi ya tidak begitu. Di situ ya di situ, tapi ya tidak di situ.

Saya suka sekali mencerna bagaimana Mbah Moen dan Gus Baha menggunakan ilmu tafsir, ilmu manthiq, dan tasawuf sebagai pendekatan terhadap fiqih atau sebaliknya. Dari mereka, saya juga merasakan bagaimana ushul fiqih tidak lagi eksis sebagai bait hafalan alias kaidah baku yang berdiri tunggal, melainkan mencair dan terintegrasi dalam pandangan-pandangan hukumnya.

Pada titik ini saya melihat kesamaan Mbah Moen dan Gus Baha dengan jelas. Bedanya cuma ketika Mbah Moen berupaya menyambungkan berbagai disiplin ilmu untuk menghukumi persoalan dengan cukup ketat dan menyampaikannya secara lugas layaknya seorang guru, Gus Baha justru hadir layaknya komentator dengan segudang kritik dan otokritik yang keras seperti palu godam.

Ia tahu pentingnya fiqih didekati dengan tasawuf, tapi ia tidak cukup lembut kalau menyerang tasawuf. Ia penghafal Al-Quran, tapi seringkali ia menyindir para penghafal Al-Quran, bahkan ia katakan hafalan Al-Quran tidak ada manfaatnya kalau tujuannya hanya untuk hafalan semata, apalagi sekadar untuk lomba.

Otokritik dan kritik keras Gus Baha uniknya cukup diterima jamaahnya dengan baik, sama penerimaannya terhadap penyampaian lembut Mbah Moen oleh jamaah yang masih dalam karakter yang sama.

Kelembutan Mbah Moen dan kekasaran Gus Baha menjadi rahasia saya saat ini. Mereka adalah dua orang cerdas yang saya suka. Sederhana, lugas, tegas, dan berpikiran maju. Untuk memahami pemikiran mereka secara utuh, tentu saya butuh waktu yang cukup membaca teks asli dari karya yang mereka tulis. Saya belum mendapatkan apa-apa yang saya mau. Mudah-mudahan suatu waktu saya bisa temukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here