Kelembutan Mbah Moen, Kekasaran Gus Baha, Kebingungan Saya

1730

Semua topik itu disampaikan melalui ceramah yang lembut, santai, dan terkadang lucu, sehingga kontekstualisasi Al-Quran dan Alhadits cukup mencerahkan.

Sementara Gus Baha hadir dengan penampilan berbeda. Selain ia tidak mau menggunakan peci putih dan surban, menggunakan kopiah hitamnya pun terkesan asal-asalan. Lebih jauh lagi, hampir dalam setiap ceramahnya yang saya tonton di Youtube, kata-kata kasar seperti goblok, bodoh, kacau dan sebagainya kerap menghiasi penampilan Gus Baha.

Tak ketinggalan, Gus Baha kerap mendeklarasikan dirinya sebagai “wong alim” yang tidak boleh disamakan dengan “orang biasa” dan pemimpin “gerakan cangkem elek” terhadap mereka yang usil dengan ajaran ahlu sunnah wal jama’ah.

Gus Baha juga kerap tertawa lepas sambil menyindir dan bahkan menjatuhkan mental jamaah pengajiannya. Uniknya, semua itu tidak membuat publik mengesankan Gus Baha sebagai sosok yang sombong dan arogan.

Gus Baha tetap dikampanyekan sebagai penerus ketokohan Mbah Moen, meski beda gaya. Bahkan gaya Gus Baha yang nyentrik, ceplas ceplos, dan apa adanya terasa lebih cocok dengan dakwah ala kaum milenial yang meriah di media sosial hari ini.

Di sini saya mendapati kondisi yang menarik dalam satu hubungan guru dan murid. Lebih jauh dari itu, saya mendapati anasir baru, bagaimana arti pembentukan karakter tidak berarti duplikasi prilaku guru bagi muridnya.

Misi ketauladanan Mbah Moen ke Gus Baha mungkin bersifat inderawi dan materil, namun sekaligus spirituil. Tentu terjadi transfer pengetahuan melalui proses ajar, namun ada sesuatu lain yang dijalankan guru dalam misinya ke murid, yaitu menabur cinta dan doa.

Doa guru ke murid menjadi pigura yang membingkai nilai-nilai prinsipil dari dalam, sementara nilai-nilai sekunder seperti tampak dalam gaya berpakaian atau gaya berkomunikasi atau gaya bercanda, bergerak bebas namun tidak memengaruhi substansi dari warisan nilai guru ke murid.

Hal ini barangkali menjadi hal yang nyaris hilang dari sistem pendidikan kita saat ini, yaitu ketika relasi spiritual guru dan murid tidak terbangun, tidak ada doa dan ketulusan, tidak ada cinta dan kebebasan, maka yang ada adalah formalisme guru ke murid dan lips service murid ke guru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here