Kelembutan Mbah Moen, Kekasaran Gus Baha, Kebingungan Saya

1728

Malam itu, pengalaman saya membaca puisi dan mendengar musik jadi terganggu, akhirnya saya hentikan. Saya jadi ingin tahu lebih jauh tentang Mbah Moen. Saya pandangi bolak balik tumpukan buku di rumah saya, mencari buku karya Mbah Moen, tapi tidak ada. Rupanya memang saya belum pernah punya.

Saya buka internet, tapi hanya potongan berita-berita yang saya temukan, juga beberapa video potongan ceramah beliau di Youtube. Malam itu saya khatamkan ceramah-ceramah Mbah Moen di Youtube.

Setelah khatam, beberapa waktu ke depannya saya malah lebih banyak menemukan ceramah KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha di Youtube. Tokoh yang satu ini baru saya ketahui dari penjelasan yang meriah di internet bahwa Gus Baha adalah murid teladan Mbah Moen. Penerus ketokohan Mbah Moen. Saya pun terus menyisir Mbah Moen dari sosok muridnya.

Pada ceramah dua ulama beda generasi ini, saya menangkap kecerdasan yang luar biasa. Erudisinya luas. Mendalami tema dengan penjelasan yang terkadang melompat-lompat, namun terasa sebagai jembatan untuk membangun paradigma baru pada fenomena atau persoalan atau isu yang sedang mereka uraikan.

Pikiran-pikiran dua ulama ini tertangkap cukup progresif dan berani. Berpijak pada ilmu pengetahuan dalam kitab-kitab klasik namun tidak melahirkan kebijakan yang skriptualistik. Di tangan dua ulama ini, pingpong sistem pengetahuan yang rigid dan respon terhadap masalah kontemporer menjadi wacana yang segar.

Keluasan pengetahuan dan pengalaman Mbah Moen, membuatnya cukup lihai menarik hipotesis dari beberapa peristiwa yang telah terjadi sebagai peristiwa biasa, namun oleh Mbah Moen dibuat menjadi peristiwa yang punya arti khusus.

Terkadang, kalau tidak cukup kritis, ada rentetan upaya Mbah Moen memistifikasi peristiwa-peristiwa. Tapi itu kesan di permukaan, sebab secara umum, ceramah-ceramah Mbah Moen justru lebih banyak menggunakan logika umum, tidak rumit, dan realistis.

Pandangan-pandangannya tentang hukum Islam dalam menjawab problem keumatan dan kebangsaan terasa simpel dan mudah diterima, seperti soal dana haji, bunga bank, ideologi Pancasila, makna kemerdekaan RI, kebudayaan Jawa versus Islam, dan sebagainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here