Kehadiran Allah

270

Oleh: Aa Gym (Pendakwah)

Dari Abu Bakar ash-Shiddiq, beliau berkata, “Aku melihat tapak kaki kaum musyrikin ketika kami bersembunyi di dalam gua, dan orang-orang tersebut tepat di atas kepala kami. Lalu aku berkata, ‘Ya Rasulullah, andaikata seorang dari mereka itu melihat ke bawah kakinya maka pasti mereka akan melihat tempat kita ini.’ Beliau saw bersabda, ’Wahai Abu bakar, apakah engkau mengira bahwa kita hanya berdua? Allah adalah yang ketiga dari kita ini.”'(HR. Imam Bukhari dan Muslim)

Nah, saudaraku. Kalau kita misalnya menyebut Allah sebagai ”yang ketiga’, seperti pada hadis tersebut, maka jangan membayangkan kita menjadi bertiga dengan Allah dalam bentuk sebagaimana kita sehari-hari. Karena Allahu Ahad itu bukan berarti angka ”satu” dalam bilangan kita.

Kalau angka satu bilangan kita dapat ditemui dari mana saja. Misalnya setengah ditambah setengah, dua dikurang satu, sepertiga dikali tiga, atau dua dibagi dua. Satunya kita bisa penjumlahan, pengurangan, pengalian dan pembagian. Tapi Allahu Ahad tidak bisa dari sisi mana pun.

Allahu Ahad berbeda dengan ”satu”-nYa kita. Maksudnya, Allah tidak harus wujud. Seperti sekarang saudara sedang membaca tulisan ini, Allah pasti hadir dan menyaksikan. Misalkan saat membaca tulisan ini saudara sendirian, maka saudara bisa menyebut Allah sebagai ”yang kedua”. Saudara sedang berdua dengan Allah.

Tidak sulit bagi kita meyakini sesuatu yang tidak terlihat. Seperti udara dan gaya gravitasi, kita meyakininya ada meski tidak tampak. Sama dengan elektron, proton, atau listrik juga tidak tampak, mungkin baru terlihat ketika ada yang salah pegang kabel.

Untuk lebih jelasnya, saya akan menyampaikan sebuah kisah yang sudah sering diceritakan. Bagi saudara yang mungkin masih ingat, tidakada salahnya membaca lagi supaya kita tidak mudah lupa tentang kehadiran Allah.

Suatu ketika ada seseorang yang terpelajar secara duniawi bertanya tentang tiga hal kepada orang-orang. Pertama, tentang bukti kehadiran Allah. Kedua, tentang apa sebetulnya takdir. Ketiga, tentang setan yang dicipta dari api dan dimasukkan ke neraka yang api juga, yang dianggapnya sebagai lelucon.

Setiap orang yang ditanyainya tidak ada yang bisa menjawab. Sampai kemudian ada seseorang yang berkata padanya agar dia pergi menemui seorang alim di sebuah kampung,”lnsya Allah, beliau bisa memberi jawaban yang memuaskan Anda.”Tapi orang yang terpelajar duniawi menganggap nasihat itu’sebagai lelucon tambahan. ”Orang kota saja ngga bisa jawab, apalagi orang kampung,” katanya. ”Dicoba saja dulu,”jawab seseorang tadi meyakinkannya.

Singkat cerita, sampailah dia di kampung dan bertemu orang alim yang dimaksud. Dia langsung bertanya. ”Kakek, setiap yang ada itu harus ada buktinya. Kalau Tuhan ada, apa buktinya? Lalu, apa itu takdir? Janganjangan cuma alasan atau dalih saja karena ngga berani menerima kenyataan. Dan, katanya setan dibuat dari api, tapi mengapa dimasukkan ke neraka yang api juga? Kan, api dengan api ngga berasa. Bagaimana, kek?”

Kakek alim berkata, ”Mendekat ke sini, nak.” Plakk. .. Orang yang terpelajar duniawi itu ditempeleng. ”Kakek! Kalau ngga bisa jawab, jangan emosi dong!”teriaknya kesakitan.”Maafkan saya, nak. Itu bukan menempeleng, tapi itulah jawabannya.”Tapi dia masih tidak terima, ”Jawaban bagaimana, kek? Sakit ini!”

”Benar sakit?”tanya kakek. ”Sumpah, sakit banget, kek!”Lalu kakek itu bertanya lagi,”Engkau yakin sakit itu ada?” “Yakin, kek!” Kakek itu kembali berkata, ”Baiklah,

kalau benar sakit Itu ada. coba tunjukkan atau gambarkan saja seperti apa saklt Itu?” Orang yang terpelajar mulai kebingungan. ‘Ya, pokoknya ada.”

ltu|ah bukti bahwa Allah Swt itu ada tapi tidak bisa ditunjukkan atau digambarkan tapi bisa dirasakan bagi yang yakin kepada Allah Swt.

“Baiklah,” lanjut kakek itu, ‘Apa sebelum ini engkau pernah bermimpi ditempeleng?”
“Tidak,”jawabnya. “Apa engkau merencanakan ditempeleng?”tanya kakek lagi. ”Sama sekali tidak.”Atau,”mungkin engkau punya citacita ditempeleng?””Amit-amit, nggalah kek.”Maka,”itulah takdir,”jelas kakek alim.

Lalu, “Ini apa?” kakek menunjuk telapak tangannya. “Kulit.” Dan, ‘Di pipimu itu apa?” ”Kulit,” jawabnya lagi. ‘Jadi, saat kulit bertemu dengan kulit tadi bagaimana?” “Sakit, kakek,” ujarnya yang masih kesakitan. Begitulah ketika setan dimasukkan neraka.

Nah, saudaraku. Kita harus yakin bahwa Allah selalu hadir, menyaksikan, mengawasi, dan menjaga kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here