Kebodohan dan Tiga Tandanya

675

Oleh: Abdan Syakura

Para ulama dahulu tak canggung ketika mengatakan ‘tidak tahu’ saat tidak bisa memberikan jawaban kepada jamaahnya yang bertanya. Sikap ini bukan menunjukkan kebodohan para ulama, melainkan justru menyelamatkan mereka dari kebodohan.

Dalam sebuah hadits diketahui bahwa suatu ketika Nabi Muhammad ﷺ di hadapan para sahabatnya ditanya oleh Malaikat Jibril, “Kapan Hari Kiamat terjadi?” Beliau menjawab, “Tidaklah orang yang ditanya tentangnya lebih tahu daripada orang yang bertanya,” (HR Bukhari-Muslim).

Bahkan Nabi ﷺ terang-terangan mengatakan ketidaktahuannya atas jawaban yang memang tidak beliau ketahui.

Begitu juga ketika Imam Malik bin Anas ditanya tentang 48 masalah, beliau menjawab “laa adrii” (aku tidak tahu) untuk 32 pertanyaan. Imam Malik yang merupakan seorang imam besar pun tak canggung mengatakan “aku tak tahu”.

Mengatakan “aku tak tahu” terhadap persoalan yang tidak diketahuinya, atau terhadap jawaban yang memang tidak diketahuinya, bukanlah hal memalukan. Karena jawaban itu bukanlah sebuah tanda kebodohan.

Kendati demikian, hal ini justru seringkali tidak dipahami oleh kebanyakan orang. Karena lumrah di masyarakat kita, seseorang yang bisa menjawab segalanya disebut sebagai orang pandai. Sebaliknya, orang yang tidak bisa menjawab setiap persoalan disebut bodoh.

Padahal sejatinya, kebodohan muncul dari sikap seseorang yang abai terhadap kualitas diri dan abai terhadap kebenaran. Mereka bukan bodoh dalam ilmu pengetahuan, tetapi enggan menerima ajaran tauhid dan tak berkeadaban. Inilah yang terjadi pada orang-orang Arab Jahiliyah.

Tiga Tanda Kebodohan

Kebodohan memiliki tiga tanda. Demikian diutarakan Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari (1250-1309 M) dalam kitab Al-Hikam yang disusunnya.

ﻣﻦ ﺭﺃﻳﺘﻪ ﻣﺠﻴﺒﺎً ﻋﻦ ﻛﻞ ﻣﺎ ﺳﺌﻞ ﻭﻣﻌﺒﺮﺍً ﻋﻦ ﻛﻞ ﻣﺎ ﺷﻬﺪ ﻭﺫﺍﻛﺮﺍً ﻛﻞ ﻣﺎ ﻋﻠﻢ ﻓﺎﺳﺘﺪﻝ ﺑﺬﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﺩ ﺟﻬﻠﻪ

“Siapa yang engkau lihat sebagai orang yang selalu menjawab segala yang ditanyakan kepadanya, mengungkapkan segala yang disaksikannya dan menyebut segala yang diketahuinya maka simpulkanlah bahwa itulah tanda kebodohannya”.

Pertama, tanda kebodohan bisa tampak dari mereka yang selalu menjawab setiap persoalan (mujiiban ‘an kulli maa suila). Orang yang masuk kategori ini bisa juga dikatakan sebagai orang yang sombong. Pasalnya, ia merasa bisa menjawab segala hal dan sok tahu banyak hal.

Oleh karenanya, dia merasa malu kalau tidak bisa menjawab sebuah pertanyaan. Orang seperti ini pintar mengarang, menutupi ketidaktahuannya dengan jawaban-jawaban yang menyesatkan.

Kedua, tanda kebodohan terdapat pada orang yang menyebutkan apa saja yang diketahuinya (dzaakiran kulla maa ‘alima). Masuk dalam kategori ini orang-orang yang banyak bicara. Ia tidak pandai memilah dan memilih mana yang harus diucapkan dan mana yang tidak.

Pun, jika ia menceritakan suatu kecacatan (kejelekan) orang lain, maka hal ini akan sangat berbahaya dan merupakan dosa besar. Kita tidak boleh menceritakan kejelekan orang lain karena itu merupakan rahasia Allah subhanahu wa ta’ala.

“Katakan yang engkau ketahui, tapi tidak semua yang diketahui boleh engkau katakan,” demikian sering kita dengar orang bijak berkata. Atau, teringat mahfuzhat yang dihafal para santri, likulli maqam maqal wa likulli maqal maqam, bahwa untuk setiap tempat ada ucapan yang sesuai dan untuk setiap ucapan ada tempat yang sesuai.

Ketiga, tanda kebodohan juga terlihat dari orang yang senang menceritakan apa saja yang dilihatnya (mu’abbiran ‘an kulli maa syahida). Padahal, sesuatu yang dilihatnya, belum tentu pasti kebenarannya.

Orang seperti ini umumnya terburu-buru menceritakan sesuatu yang dilihatnya, tanpa melakukan tabayyun (konfirmasi) dan mengecek kebenarannya. Ini tentu sangat berbahaya, sebab bisa menimbulkan perselisihan atau permusuhan di tengah masyarakat.

Bukankah tidak semua kejadian yang kita lihat perlu diceritakan walaupun itu benar? Apalagi jika ternyata kejadian yang diceritakan jauh dari kebenaran.

Kebodohan bukan karena tidak adanya kecerdasan ataupun kepintaran dalam diri seseorang. Kebodohan terdapat pada orang yang tidak menggunakan akalnya dengan baik dan untuk hal-hal yang baik (mashlahat).

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here