Kebanyakan Belum Dikhitan, Muslim Timor Tengah Selatan Butuh Bantuan

611
MP NTT 7
Masih banyak muslim dewasa dan anak-anak di kecamatan Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan, NTT yang belum dikhitan. Sebagian besar dari mereka adalah muallaf. (Foto: MP NTT)

Timor Tengah Selatan, Muslim Obsession – Berkhitan adalah tradisi baik yang telah ada sejak lama sekali. Sebagai syariat, khitan telah dimulai sejak Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang melaksanakannya ketika beliau berusia 80 tahun. Khitan menjadi salah satu pembeda seorang muslim dan non-muslim.

Sayangnya, umat Islam di kecamatan Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) masih banyak yang belum dikhitan. Padahal, terdapat lebih dari 100 kepala keluarga yang beragama Islam. Jumlah ini semakin tinggi mengingat banyaknya anak-anak di wilayah tersebut.

“Sebagian besar mereka muallaf. Dan menurut imam masjid setempat, muslim dewasa di sana lebih dari 50 persen belum dikhitan,” ujar Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP) NTT, Dra. Hj. Ening Murtiningsih. M.Pd kepada Muslim Obsession, Senin (12/11/2018).

Ening menuturkan, kondisi masyarakat cukup memprihatinkan. Kehidupan masyarakat tergantung dari hasil pertanian yaitu jagung yang dipanen sekali dalam setahun karena masa tanam menunggu musim hujan.

Beruntung, lanjut Ening, saat ini terdapat 6 guru mengaji terdiri dari 3 perempuan dan 3 laki-laki. Keenam guru mengaji ini setiap bulan diberikan honor pengganti transportasi sebesar Rp.250.000 setiap orang perbulannya.

“Insya Allah pengurus Muslimah Parmusi NTT mulai bulan depan akan bertanggung jawab memberikan honor para guru tersebut,” jelas Ening yang juga merupakan Ketua Muslimah Parmusi NTT.

Satu hal yang paling mendesak dibutuhkan masyarakat Amanatun saat ini, terang Ening, adalah sumur bor untuk digunakan umat Islam di wilayah tersebut. Saat ini Ening mengaku tengah berpikir dari mana mendapat bantuan sumur bor tersebut.

“Saya sih berharap kalau bisa ada dua buah sumur bor. Di sini harga menggali sumur bor Rp15 juta persumur,” tuturnya.

Tak cuma itu, masyarakat setempat juga membutuhkan bantuan traktor untuk menggarap ladang dengan harga traktor adalah Rp17,5 juta. Kebutuhan mendesak lainnya adalah bangunan madrasah dengan memakai tanah umat yang telah disiapkan untuk pertanian maupun pendidikan.

“Kami membutuhkan bantuan para aghniya (kalangan orang mampu, red) untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Kalau berharap perhatian dan bantuan pemerintah, sepertinya tidak mungkin. Selama ini perkembangan muslim di sini sangat pesat dan umat pun bersatu,” pungkasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here