“Katanya Sayang, Kok Gitu?”

624

Bogor, Muslim Obsession – Komunitas Teman Hijrah menggelar kajian bertema, “Katanya Sayang, Kok Gitu?” di Masjid Alumni IPB, Bogor, Sabtu sore (31/3/2018).

Kajian tersebut berhasil menyedot ratusan jamaah dengan mayoritas anak muda. Apalagi Ustadz Hilman Fauzi yang menjadi pembicara, sukses membuat jamaah terpukau hingga tidak jarang mereka dibuat tertawa geli atau bahkan hingga menangis ketika tersentuh kalimat menyejukkan.

Ustadz Hilman membuka dengan sebuah pertanyaan, “Milih mana, mencintai atau menyayangi? Dicintai atau disayangi? Mau cinta atau sayang?”

Kita seringkali mendengar cinta atau sayang, “Beda atau sama?” lanjutnya.

“Setidaknya ada sejumlah perbedaan antara cinta dan sayang. Pertama, cinta itu ada apanya, sedangkan sayang itu apa adanya,” tegas Ustadz Hilman.

Menurutnya, semua yang dimulai dengan motif, maka kita harus menerima konsekuensinya. Karena ketika motif itu hilang perasaan pun bisa hilang.

“Teman-teman mencintai Allah saja itu gak cukup. Kalau hanya mendekat kepada-Nya saat galau, gelisah dan resah, itu baru sekadar cinta. Tapi sebaliknya, kalau kita mendekat kepada-Nya suka maupun duka, itu berarti kita sayang sama Allah,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan kalau cinta itu akan hadir karena suka. Tapi kalau sayang, akan hadir karena duka. Cinta, menurut pendapatnya rasanya akan terasa senang saat bahagia. Sebaliknya, sayang akan hadir saat keduanya, suka atau pun duka.

Cinta, menurut Ustadz Hilman itu terbatas, sedangkan sayang tidak terbatas.

“Awal bulan (karena sudah gajian) agak lupa sama Allah. Tapi kalau akhir bulan, sujudnya lama banget,” katanya disambut riuh tawa jamaah.

Makna cinta lainnya itu menuntut. Sedangkan sayang itu menerima. Contohnya, kita sering mengeluh dan menuntut kepada Allah, “Ya Allah, aku sudah tahajud, tapi kenapa hidup begini-gini aja?”. “Itu menuntut,” tegasnya.

Tapi kalau sayang sama Allah, kita akan selalu bersyukur dan memujinya. Bersabar dengan segala takdir yang Dia berikan, yang pada hakikatnya pasti baik.

“Cinta melihat perbedaan, sayang melihat persamaan. Jelas, manusia memang terlahir berbeda satu sama lain. Tapi justru berangkat dari perbedaan dan ketidakcocokkan pasti selalu ada persamaan,” ujarnya.

Ustadz Hilman menilai cinta belum tentu sayang, tapi kalau sayang sudah pasti cinta. Kemudian, ia melemparkan pertanyaan, “Mau dicintai Allah atau disayangi Allah?”

“Allah menyebut diri-Nya di Asmaul Husna sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadi kalau hari ini kita menyayangi sesama itu pun sebenarnya semu. Karena kasih sayang Allah yang Maha Abadi,” tuturnya.

“Jadi kalau teman-teman banyak patah hati, galau, resah itu karena mengejar kasih sayang makhluk,” imbuhnya.

Berbicara cinta, baginya ada dua jenis cinta hakiki. Pertama, cinta Allah kepada hamba-Nya. Kedua, cinta seorang ibu kepada anaknya.

Ustadz Hilman mengajak para jamaah untuk selalu memandang segala sesuatu yang datang dari Allah itu baik. Ia mencontohkan peristiwa Isra Miraj. Di mana peristiwa itu merupakan hiburan bagi Rasulullah Saw. yang saat itu ditimpa kesedihan mendalam karena kehilangan Istri tercinta Siti Khadijah dan Pamannya Abu Thalib. Dengan membawa oleh-oleh dari Allah berupa perintah shalat lima waktu.

Karenanya, ketika Allah mengambil sesuatu dari kita, pasti Allah akan ganti dengan yang lebih baik. Kalau saat ini kita ditimpa kesedihan, kegelisahan, kesusahan, Ustadz Hilman mengatakan, “Tenang, di depan, Allah sedang menyiapkan Isra Mirajnya kita. Siap-siap dengan hiburan dari Allah untuk kita. Bisa apa saja, contohnya bisa berkumpul di kajian ini, bertemu dengan orang-orang baik. Oleh-olehnya bisa apa saja, jodoh mungkin?” tandasnya sambil mengulas senyum.

Lebih lanjut tentang cinta dan sayang. Ustadz Hilman menyerukan kepada jamaah untuk menyegerakan kebaikan, salah satunya dengan menikah.

“Kalau sayang, bismillah. Karena, semua urusan yang membuat dekat dengan Allah itu baik. Jika sudah menemukan pasangan yang membuat kita dekat kepada Allah itu baik. Tapi kalau sebaliknya, hindari, jangan dilanjutkan,” tuturnya.

Karena bayangkan, imbuh Ustadz Hilman. Ketika kita masih mempertahankan yang tidak baik, dosanya seperti apa? Katanya sayang, kok gitu? Katanya ingin mendapat ridha Allah, tapi kenapa hobi menempuh jalan yang tidak baik?

“Maka dari itu, hijrah karena Allah. Pasti Allah ganti dengan yang lebih baik, pasti!” pungkasnya. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here