Katanya Bulan Puasa Setan Dibelenggu, Tapi Kok Masih Aja Ada Kemaksiatan?

541

Jakarta, Muslim Obsession – Ketika memasuki bulan suci Ramadhan sering terdengar berbagai macam hikmah dan keutamaan. Salah satu yang sudah terhafal dalam alam pikiran kita adalah, jika bulan Ramadhan tiba, maka pintu-pintu surga akan dibuka, dan setan akan dibelenggu.

Hal ini sesuai dengan hadits Nabi yang di riwayatkan Imam Muslim dari Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibnu Hajar yang berbunyi:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Artinya, “Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelanggu.”

Namun sekarang muncul pertanyaan, jika pada bulan Ramadhan setan dibelenggu, mengapa masih ada kemaksiatan di muka bumi ini? Atau bahkan kita sendiri masih melakukan kemaksiatan pada saat Ramadhan. Mestinya jika tidak ada yang menggoda, semua manusia berbuat taat.

Untuk menjawab pertanyaan ini, Ustadz M Tatam, Pengasuh Majelis Taklim Syubbanul Muttaqin, Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat mengatakan, para ulama hadits sendiri memiliki pendapat beragam. Al-Halimi yang dikutip oleh Badruddin Al-Aini dalam ‘Umdatul Qari mengatakan, mungkin saja hadits itu bermakna setan senantiasa mencuri-curi dengar informasi langit.

Namun, pada bulan suci Ramadhan, mereka tidak dapat melakukan hal itu karena dibelenggu, termasuk menggoda manusia. Sebagaimana diketahui, zaman Al-Quran diturunkan mereka senantiasa dihalang-halangi mencuri tahu wahyu yang turun. Itu terjadi antara lain demi menjaga keotentikan wayhu.

“Atau mungkin saja, hadits ini bermakna, pada bulan Ramadhan setan tidak terlalu leluasa menggoda manusia layaknya pada bulan-bulan lain karena kesibukan manusia berpuasa, membaca Al-Qurnan, berzikir, dan seterusnya,” ujar Ustadz M Tatam dalam artikel lepasnya.

Dengan demikian, istilah “dibelenggu” kata dia, menjadi ungkapan atas kelemahan setan dalam menyelewengkan, menggoda manusia, dan memperindah keinginan syahwat manusia.

Ada pun kata dia, menurut Abu Muhammad penulis Kitab ‘Umdatul Qari, menjelaskan setan terbelenggu pada bulan itu hanya bagi orang-orang berpuasa yang menjaga syarat, rukun, dan adabnya. Ada juga yang berpendapat bahwa setan yang dibelenggu hanya sebagian saja, tidak seluruhnya.

“Jadi, maksud hadits itu hanya membatasi ruang gerak setan dan jin-jin jahat saja. Itu pun dilakukan oleh orang-orang yang berpuasa. Kemudian, pembelengguan setan tidak berhubungan langsung dengan keburukan dan kemaksiatan manusia,” jelasnya.

Sebab, dalam diri manusia masih terdapat pemicu atau pendorong keburukan lain, yakni nafsu, kebiasaan buruk, atau yang biasa disebut setan manusia. Adakalanya, tanpa setan, kebiasaan buruk akan mendorong manusia untuk berbuat buruk.

Namun ada pula yang menafsirkan ungkapan hadits itu sebagai kiasan, seperti Abu ‘Umar Yusuf Al-Qurthubi. Ia mengatakan, “Menurut hemat saya, maksud ‘dibelenggu’ di sana adalah majaz (kiasan). Maknanya, wallahu a‘lam, Allah senantiasa menjaga kaum Muslimin yang taat di bulan Ramadhan dari godaan setan sehingga mereka mampu menghindari kemaksiatan.

Dengan demikian, kata Ustadz, pengertian setan dibelenggu dalam hadits tadi tidak dapat dimaknai sepenuhnya secara harfiah. Mayoritas ulama hadits bahkan menafsirkannya secara kiasan. Artinya, setan terbelenggu dan terbatasi ruang geraknya oleh orang-orang yang berpuasa dengan senantiasa memenuhi syarat, rukun, dan adabnya.

Pada saat yang sama, Allah memelihara mereka dari perbuatan tercela. Oleh karena itu, berusahalah untuk menjauhi kebiasaan buruk, menjauhi manusia setan, dan mengendalikan nafsu yang kerap ditumpangi setan jin dalam menyesatkan manusia.

“Jangan lupa memohon perlindungan kepada Allah SWT dari keburukan makhluk terkutuk itu,” tandasnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here