Kata Pribumi Anies Baswedan Juga Dibahas di Melbourne

515
Herb
Associate Professor Charles Coppel (kiri) dengan Prof Ariel Heryanto di kuliah Herb Feith di Monash. Foto: Sastra Wijaya

Melbourne, MuslimObsession.com – Pidato kontroversi Gubernur DKI Jakarta baru, Anies Baswedan yang menyebutkan kata pribumi juga menjadi bahasan dalam kuliah Herb Feith di Monash University, Rabu malam (18/10/2017).

Pembicara dalam kuliah tersebut adalah Associate Professor Charles Coppel dari Melbourne University, dengan tema Warga China atau Tionghoa di Indonesia.

Profesor Coppel sempat menyinggung soal pidato Anies Baswedan, karena sebelumnya ia juga membahas Ahok sebagai bagian dari cerita mengenai warga Tionghoa Indonesia.

“Menurut saya kata pribumi yang digunakan Anies Baswedan aneh dalam tiga hal.” ujar Profesor Coppel, yang dalam kuliah ini diperkenalkan sebagai Bapak Jurusan Indonesia di Australia.

“Pertama dalam soal penjajahan, kolonial. Jadi sekarang ini Indonesia dijajah oleh siapa?” katanya.

“Kedua, adalah kata pribumi. Sementara Anies sendiri bukanlah pribumi, karena dia peranakan Arab.”

“Dan ketiga pernyataan itu tidak memperhatikan jasa kelompok seperti Tionghoa Muslim di Indonesia.” lanjut Profesor Coppel.

Sebelumnya, Profesor Coppel memaparkan Gubernur Jakarta sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, sebagai bagian dari penjelasannya mengenai kehidupan warga Tionghoa Indonesia, dalam kuliahnya tersebut yang diberi judul Normalising Chinese Indonesians, atau Menormalkan Tionghoa Indonesia.

Profesor Coppel mencoba menjawab pertanyaan apakah Tionghoa Indonesia sudah merupakan bagian normal dari Indonesia sekarang ini.

Di akhir kuliahnya, Profesor Coppel memberikan jawaban bahwa sampai sekarang jawabannya adalah belum.

Mengenai Ahok, Profesor Coppel menalikan dengan keadaan Indonesia setelah peristiwa kerusuhan tahun 1998 yang malah memberikan banyak kebebasan bagi kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia, antara lain pengakuan Kong Hucu sebagai agama.

Menurutnya berkaitan politik, munculnya Ahok yang awalnya sebagai Wakil Gubernur Jakarta, kemudian menjadi Gubernur menggantikan Joko Widodo, pada awalnya dilihat sebagai perkembangan yang luar biasa.

Juga dengan kemungkinan Ahok akan terpilih lagi dalam pemilihan Gubernur, namun berakhir dengan terpilihnya Anies Baswedan sebagai gubernur, dan Ahok harus menjalani hukuman penjara karena kasus penistaan agama. Hal ini menurutnya menjungkirbalikkan perkiraan sebelumnya.

“Apakah kekalahan Ahok disebabkan karena faktor etnis sebagai warga Tionghoa Indonesia?” tanya Profesor Coppel.

“Ahok kalah bukan karena etnisnya, namun ada hubungannya dengan masalah agama.” kata Coppel.

Ia menjelaskan dari beberapa survei yang dilakukan sebelum pilkada, walau warga puas dengan kepemimpinan Ahok, namun mereka tidak akan memilihnya lagi sebagai gubernur karena agama yang tidak sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here