Kamera Milik Fotografer di Gaza Pecah, Yuk Patungan Rame-rame!

903

Seorang wanita Palestina sedang meratap di sebuah rumah yang hancur di Gaza, Amra membuat tempat kedua dengan foto ini dalam Penghargaan Jurnalisme Arab di Dubai (Foto: Mvslim)

Dikutip dari Mvslim, Senin (11/2/2019) menurut laporan PBB, sebanyak 68% rumah tangga di Gaza tidak aman pangan. 

“Anak-anak saya sangat sedih ketika saya memberi tahu mereka bahwa kamera saya rusak,” kata Ashraf, menjelaskan bahwa bahkan pada usia anak-anak, mereka sudah mengerti betapa pentingnya kamera ayah mereka.

“Ketika saya tinggal di rumah selama beberapa hari, mereka bertanya kepada saya mengapa saya tidak pergi bekerja. Itu pertanyaan sulit,” ungkap Amra.

Amra sendiri sudah bekerja sebagai jurnalis sejak usia 17 tahun. Dia memulai kariernya sebagai reporter radio, lalu fokus ke dunia fotografi. 

Orang-orang Palestina berlindung dari tembakan Israel selama The Great March of Return (Foto: Mvslim)

Berkali-kali Amra meraih penghargaan untuk hasil fotonya tersebut. Namun, tidak perlu dikatakan lagi bahwa pekerjaan Amra memiliki risiko tinggi.

Tahun 2015, Amra bahkan pernah ditembak dua kali saat meliput pemakaman seorang warga Palestina berusia 27 tahun yang terbunuh oleh penembak jitu Israel dalam sebuah protes di dekat pagar pemisah.

Kedua kalinya, Amra dilubangi peluru oleh Israel selama Great March of Return, serangkaian peristiwa di mana orang-orang Palestina telah berkumpul di dekat pagar pemisah untuk memprotes secara damai pengasingan dan pengepungan mereka.

Ketika kamera Amra jatuh enam minggu lalu, bagi dia kejadian itu adalah tragedi keuangan yang paling hebat. Dia tidak memiliki uang banyak untuk membeli kamera baru.

Ashraf Amra memenangkan Kontes Foto Internasional Andrei Stenin dengan foto ini (Foto: Mvslim)

Sedangkan di Gaza, kota yang dilanda kemiskinan karena blokade Israel selama 12 tahun itu, hampir tidak menyisakan lapangan pekerjaan.

Mendokumentasikan kesengsaraan mereka sendiri bahkan telah menjadi sumber pendapatan penting bagi penduduk Gaza, bahkan ketika ‘perang’ itu sering dibanjiri oleh pers asing.

Amra pun menekankan perlunya mendukung jurnalisme lokal. “Saya telah bekerja sebagai fotografer selama 16 tahun,” tutur Amra.

“Tiga perang … Aku telah melihat hal-hal mengerikan. Tetapi saya ingin terus melakukannya. Fotografi adalah segalanya,” pungkas dia.

Ayo menyumbang! Sumbangan untuk mendukung Amra membeli kamera barunya dapat dilakukan di tautan ini. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here