Kalung Buatan Kementan Lebih Layak Disebut Minyak Kayu Putih

146

Jakarta, Muslim Obsession – Kalung buatan Kementerian Pertanian (Kementan) yang diklaim sebagai antivirus corona masih menuai perdebatan. Banyak yang tak yakin kalung itu bisa membunuh 80 persen virus. Bahkan netizen ada yang menyebut ini hanya mainan proyek saja di tengah pandemi corona.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam juga belum yakin kalung itu bisa membunuh virus corona. Ia mengatakan, untuk membuktikan itu perlu riset panjang, tidak hanya sekedar wacana.

Ia juga tak sependapat jika kalung eucalyptus disebut sebagai kalung antivirus corona. Menurut Ari, kalung tersebut cukup disebut dengan kalung kayu putih atau kalung eucalyptus.

“Cukuplah disebut kalung kayu putih atau kalung eucalyptus atau kalung aromatherapy,” kata Ari, saat kepada wartawan, Ahad (5/7/2020).

Hal ini disampaikan Ari menanggapi kalung yang diklaim Kementan sebagai kalung antivirus corona dan akan diproduksi secara massa pada bulan depan.

Kalung ini disebut mengandung eucalyptus atau kayu putih. Selain kalung, Kementan juga akan mengedarkan roll on dan inhaler eucalyptus.

Ari berpandangan, terlalu berlebihan mengklaim produk itu sebagai kalung antivirus corona. Meski demikian, kata dia, sebaiknya juga tidak skeptis.

“Jangan skeptis atas hasil penelitian in vitro bahwa eucalyptus (minyak kayu putih) ada efek positif untuk Covid-19. Tetapi juga tidak boleh berlebihan beranggapan hasil penelitian in vitro, langsung di klaim sebagai antivirus Covid-19,” kata Ari.

Apalagi, lanjut Ari, riset in vitro atau baru di tingkat sel belum menggunakan virus Covid-19 langsung. Ia menilai, besarnya harapan dari pemerintah terhadap penanganan Covid-19 membuat kalung tersebut langsung diklaim sebagai antivirus corona.

“Bagaimana dengan produk-produk kayu putih yang ada dalam bentuk inhaler, roll on yang sebagian sudah disetujui BPOM, tetapi keberadaannya bukan sebagai antivirus?” kata Ari.

Kementan Kerjasama Cap Lang

Untuk membuat kalung antivirus corona itu, Kementan telah menggandeng mitra usaha untuk pengembangan eucalyptus, melalui bentuk kerjasama lisensi bersama PT Eagle Indo Pharma (Cap Lang).

“Dengan kerjasama ini diharapkan semakin cepat proses pengembangan produk untuk tersedia. Sehingga dapat digunakan masyarakat sebagai pencegahan pandemi virus corona,” ungkap Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Fadjry Djufry belum lama ini.

Lebih lanjut Fadjry menegaskan kerjasama yang dilakukan sebagai tindak lanjut atas banyaknya permintaan dari jajaran pemerintah daerah dan masyarakat luas terhadap hasil olahan produk eucaliyptus ini.

“Kita bertemu dengan mitra yang melisensi beberapa produk kita, seperti inhaler, roll on dan yang kalung. Produk ini yang paling banyak diminta, banyak Gubenur dan Bupati hampir se-Indonesia minta, karena ini bisa jadi jimat anti corona,” katanya.

Fajdjry menambahkan langkah menggandeng mitra usaha PT EIP ini, sebagai upaya perbanyakan produk. Dibutuhkan produksi dalam bentuk massal bagi masyarakat, dengan menggandeng perusahaan yang berpengalaman dan memiliki reputasi tinggi untuk menyerap hasil produksi petani.

“Harapannya mitra kami ini dapat menyerap hasil petani kita. Seperti petani dari Lampung dan Medan yang sudah mengembangkan beberapa jenis eucalyptus. Uji efektivitas produk yang ada, harapannya mendorong agar produk ini segera produksi massal Pharma,” jelasnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here