Kalimatuttauhid, Bendera Macan Ali, dan Bambu Runcing

153

Muslim Obsession – Bendera merupakan simbol atau identitas sebuah negara. Saat perang, bendera biasa dikibarkan untuk menggelorakan semangat para pejuang.

Di era Rasulullah ﷺ dikenal Ar-Rayah atau Al-Liwa yang bertuliskan kalimatuttauhid. Dalam bentuk lain, kalimatuttauhid juga menjadi bagian dari bendera-bendera yang dimiliki sejumlah kerajaan Islam dan kesultanan, termasuk di Indonesia.

Beberapa di antaranya adalah Kesultanan Samudra Pasai di Aceh, Kesultanan Tidore, Kesultanan Inderapura di Sumatra Barat, juga Laskar Hizbullah yang kemudian membentuk TNI. Bahkan Laskar Hizbullah juga membuat atribut lainya seperti emblem atau pin yang menyertakan kalimat tauhid.

Salah satu bendera yang di dalamnya terdapat kalimatuttauhid adalah bendera Kesultanan Cirebon di Jawa Barat. Jika diperhatikan, kalimatuttauhid di bendera Kesultanan Cirebon ini ditulis membentuk seeokor macan, sehingga bendera tersebut kemudian dikenal sebagai bendera Macan Ali.

Baca juga: Mukjizat dan Futuhat: Hikmah Perang Khandaq

Selain tertulis “Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah”, pada bendera Macan Ali juga tertulis teks Arab lainnya, seperti Basmalah, QS. Al-Ikhlas, QS. Shaff ayat 13, dan QS. Al-An’am ayat 103, serta tulisan arab lainnya yang berbentuk rajah.

Konon, bendera Cirebon yang bernama “Macan Ali” itu tidak hanya berfungsi sebagai lambang atau simbol Kesultanan Cirebon, tetapi juga dipandang sebagai benda regalia. Bendera Macan Ali dibuat oleh Sultan Cirebon yakni Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai lambang kerajaan dan semangat perjuangan Islam.

Bambang Irianto dari Rumah Budaya Nusantara Pasambangan Jati Cirebon mengatakan, bendera Macan Ali sempat dibawa Fatahillah (menantu Syarif Hidayatullah) dalam peperangan merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis pada 1527 M.

“Karena dinilai memiliki dampak luar biasa bagi perjuangan rakyat, penjajah Belanda merampasnya hingga saat ini dan hingga kini tersimpan di Museum Rotterdam,” ujar Bambang, mengutip Rakyat Cirebon.

Bendera Macan Ali dan Bambu Runcing

Ada satu tulisan di Bendera Macan Ali yang tampaknya memiliki hubungan dengan bambu runcing. Tulisan tersebut adalah ayat 103 dari QS. Al-An’am.

Konon, ayat tersebut merupakan doa pamungkas yang dibaca Kiai Subchi saat berperang menggunakan bambu runcing. Kiai Subchi merupakan pengasuh Pondok Pesantren Parakan Kauman, Kecamatan Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.

Masyarakat mengenal Kiai Subchi juga sebagai guru dari Panglima Besar Jenderal Soedirman. Beliau disebut sebagai penggagas bambu runcing bersama dengan Mbah Dalhar Watucconggol.

Baca juga: Menelusuri Jejak Pertama Kaki Nabi Adam di Puncak Gunung Sri Lanka

Seperti diceritakan Menteri Agama di era Soekarno, KH Saifuddin Zuhri, dalam bukunya “Guruku Orang-Orang dari Pesantren (1974)”, Kiai Subchi disebut sebagai Kiai Bambu Runcing karena sering memberikan doa-doa khusus untuk senjata bambu runcing yang digunakan para pejuang kemerdekaan. Dengan bekal bambu runcing itu, para pemuda berani tampil di garda depan bertarung dengan musuh.

Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa ketika terjadi perlawanan di Surabaya pada 10 November 1945, hampir bersamaan dengan Hari Pahlawan, rakyat Semarang juga melakukan perlawanan terhadap tentara sekutu.

Para pejuang terlibat dalam pertempuran di daerah Jatingaleh, Gombel, dan Ambarawa melawan sekutu. Laskar Hizbullah dan Sabilillah Parakan pun ikut bergabung untuk berperang.

Baca juga: Museum KH Noer Ali Akan Dibangun, Berikut Cerita Perjuangannya

Setelah berhasil bergabung dengan ribuan tentara lain, mereka berangkat ke lokasi pertempuran di Surabaya, Semarang, dan Ambarawa. Namun, sebelum berangkat, mereka singgah lebih dulu ke Kawedanan Parakan untuk memperkuat diri dengan berbagai macam ilmu kekebalan dari Kiai Subchi.

Untuk bambu runcing yang akan mereka gunakan sebagai senjata, Kiai Subchi membacakan doa Bismillahi Ya hafizh, Allahu Akbar yang berarti: Dengan nama Allah, Ya Tuhan Maha Pelindung, Allah Maha Besar.

Sementara untuk doa pamungkas, Kiai Subchi membacakan ayat 103 dari QS. Al-An’am yang juga terdapat pada Bendera Macan Ali. Doa yang menurut sebagian kalangan merupakan bukan sembarang doa karena hanya boleh digunakan jika telah mendapatkan ijazah dari seorang mursyid atau guru.

Wallahu a’lam. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here