Jumlah Peziarah Muslim ke Yerusalem Tahun 2018 Melonjak

65
Yerusalem

Yerusalem, Muslim Obsession –  Biro Pusat Statistik Israel baru-baru ini mengumumkan tahun pemecahan rekor peziarah Muslim. Dengan peningkatan 19% yang tercatat pada paruh pertama tahun 2018 atau sekitar 2,1 juta wisatawan yang memasuki Israel dari Januari hingga Juni.

Menurut pemandu wisata dan manajer hotel yang bekerja di sisi sektor Palestina, pasar Muslim adalah salah satu bidang bisnis yang paling cepat berkembang.

“Sektor ini mulai tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Ada banyak Muslim yang berasal dari Indonesia, Turki dan Yordania,” kata Awni E. Inshewat, manajer umum dari Seven Arches Hotel yang terletak di puncak Gunung Zaitun, sebagaimana dilansir Travel News, Rabu (11/7/2018).

Angka resmi 2017 dari Kementerian Pariwisata Israel mendukung pernyataan Inshewat. Meskipun, Muslim hanya merupakan 2,8 persen dari semua turisme ke Israel. Pada 2015, hampir 75.000 orang dari negara-negara Muslim memasuki Israel.

Kemudian pada 2016, jumlahnya naik menjadi 87.000. Sedangkan tahun lalu, wisatawan Muslim di Israel mencapai sekitar 100.000 pengunjung. Di mana, banyak di antaranya yang datang dari Yordania, Turki, Indonesia, dan Malaysia

Yerusalem, sebuah kota kuno yang kaya akan sejarah, budaya, dan agama, telah lama menjadi tujuan wisata utama. Meskipun wisatawan Yahudi dan Kristen merupakan bagian terbesar dari turis ke Israel dan Tepi Barat. Namun, jumlah wisatawan Muslim ke Yerusalem Timur telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Peziarah Muslim yang mengunjungi Tanah Suci cenderung memilih hotel Yerusalem timur. Karena kedekatannya dengan situs suci ketiga Islam Masjid Al-Aqsha.

Terletak di atas alun-alun Temple Mount atau Haram As-Sharif di Kota Tua, Al-Aqsha menjadi situs yang dihormati oleh orang Yahudi, Kristen, dan Muslim. Meskipun daerah itu telah menjadi titik api dalam konflik Israel-Palestina selama bertahun-tahun.

“Selama 100 tahun pertama Islam, kiblat sebenarnya ialah ke Yerusalem. Jadi lokasi ini sangat penting dalam Islam,” ujar Firas Amad, wakil manajer umum hotel.

Namun, tidak seperti turis Eropa atau peziarah Kristen dari negara lain, wisatawan Muslim ke Tanah Suci cenderung memiliki program perjalanan yang jauh lebih sempit. Yaitu, dengan banyak menghabiskan seluruh kunjungan mereka di Yerusalem timur.

Beberapa dari mereka juga mengunjungi Gua Para Leluhur di kota Hebron, Tepi Barat. Di mana pasangan-pasangan biblikal Abraham dan Sarah, Ishak dan Ribka, juga Yakub dan Leah, konon dikuburkan ribuan tahun lalu di tempat tersebut.

Meski demikian, wisatawan Muslim yang ingin melakukan perjalanan ke Yerusalem timur, kerap menghadapi kesulitan perizinan. Banyak yang ingin mengunjungi Israel dari negara-negara mayoritas Muslim, harus mengajukan permohonan izin perjalanan atau visa dari Kementerian Dalam Negeri Israel, dan izin ini tidak selalu diberikan.

“Jika agen perjalanan berlaku atas nama 60 orang, maka hanya 20 atau 30 wisatawan yang menerima persetujuan. Jadi, ada batasan siapa yang bisa datang,” kata Inshewat. (Vina)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here