Jiwa Besar vs Jiwa Kerdil

757

Jiwa kerdil itu adalah jiwa yang kalah. Dan jiwa yang kalah tidak akan bergerak ke mana-mana. Lebih runyam lagi, jiwa kerdil itu hanya akan selalu melihat kesalahan atau mencari-cari keburukan orang lain.

Jiwa kerdil juga rentang mengalami ”uncontrollable state” (suasana yang tidak terkontrol). Mudah lemah, putus asa, dan selalu melihat orang lain sebagai saingan, bahkan ancaman (threat).

Jiwa kerdil akan selalu mencari tameng positif untuk menyembunyikan kekurangan dirinya. Kegagalan dalam karya (berbuat) dibalut dalam selimut justifikasi ”keikhlasan”.

Ketidak mampuan untuk menampilkan sebuah kontribusi sosialnya disembunyikan dengan pembenaran atas nama ”kerendah hatian”.

Karenanya dalam menjalani hidup sosialnya manusia harus memiliki jiwa besar. Jiwa besar itu berani menghadapi tantangan dan tidak sekedar pandai mencari kesalahan orang lain.

Jiwa besar itu berkarakter kompetitif atau fastabiqul khaerat. Akan selalu tampil dengan ”achievement” (capaian) terbaik. Bukan karena orang lain, tapi memang itulah naturalnya. Jiwa pemenang yang tidak bisa terintimidasi oleh kelebihan orang lain.

Jiwa besar bahkan berani menerima kelebihan orang lain. Bukan dengan kelemahan. Tapi dengan kekuatan untuk melakukan yang sama, bahkan yang lebih baik.

Hanya jiwa besar sesungguhnya seseorang akan mampu menganyam hidup sosialnya secara indah dan nyaman. Dan yang terpenting hanya dengan jiwa besar seseorang tidak pernah kalah dan terancam dalam hidup sosialnya.

Karenanya mari bangun jiwa besar. Ketahuilah nilai (value) tauhid terbesar dalam hidup adalah terbangunnya mentalitas besar, kuat dan menang. Yang tidak terancam, terintimidasi, apalagi diperbudak oleh apa dan siapapun kecuali kepada Dia Yang Maha Sempurna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here