Jelang Pilpres 2019, Din Syamsuddin Minta Kedepankan Hubungan Dialogis dalam Perbedaan

58
Konferensi Pers Pemuka Agama Untuk Demokrasi Berkualitas (Foto: Bal)

Jakarta, Muslim Obsession – Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja sama antar Agama Din Syamsudin meminta seluruh pihak untuk mengedepankan hubungan dialogis dalam menyikapi perbedaan yang terjadi di masyarakat terutama saat Pilkada serentak dan menjelang pemilihan presiden 2019 nanti.

Hal ini dikatakan lantaran maraknya komunikasi dialektik khususnya di media sosial dengan ujaran kebencian, penghinaan terhadap sesama, dan penonjolan kepentingan politik sektarian.

“Keprihatinan mendalam atas suasana demikian dan mengkhawatirkannya dapat menimbulkan benih permusuhan yang membawa perpecahan bangsa,” katanya di kantor Centre for Dialogue and Cooperation among Civilization (CDCC), Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Seharusnya, kata dia, masyarakat cenderung memusyawarahkan perbedaan pandangan politik dengan penuh rasa persaudaraan demi keutuhan dan kemajuan bangsa.

Din berpesan kepada segenap keluarga besar bangsa agar perbedaan pandangan politik tidak memutuskn silaturahmi kebangsaan, “seluruh pihak harusnya menyadari bahwa demokrasi adalah cara beradab dalam memilih pemimpin maka bangsa perlu membudayakan demokrasi berkeadaban,” bebernya.

Menurut Din, penonjolan identitas kelompok dalam berpolitik adalah absah selama hal tersebut tidak menghina kelompok lain dan tidak menimbulkan sektarianisme politik ekstrem yang menegasi kelompok lain.

“Justru harusnya meletakkan perjuangan politik demi kepentingan bangsa secara bersama-sama,” ungkapnya.

Din pun berpesan kepada seluruh keluarga besar bangsa agar tetap menampilkan aspirasi dalam mengamalkan demokrasi, “harusnya berlomba dalam kebaikan dan keadaban. Terlalu mahal harga yang harus dibayar bangsa jika demokrasi membawa tragedi,” tukasnya.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh Pendeta Henrek Lokra dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Romo Agus Wahyanan dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Wisnu Bawa Tenaya, Arief Harsono dari Perhimpunan Majelis Agama Budha Indonesia (Permabudhi), dan Uung Sendana dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin). (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here