Jelang Pemilu 2019, Isu Agama Digunakan untuk Raup Suara

306
Alissa Wahid (Foto: Kumparan)

Yogyakarta, Muslim Obsession – Koordinator nasional jaringan Gusdurian, Alissa Wahid menilai saat ini isu agama dimainkan oleh para politisi di Pemilu 2019. Isu agama ini dipakai untuk meraup suara di Pemilu 2019.

Selain isu agama, isu primordial lainnya pun juga dipakai oleh politisi untuk mendulang suara. Para politisi ini disebut Alissa Wahid memang memahami jika saat ini masyarakat Indonesia masih mudah digerakkan oleh isu agama maupun isu primordial lainnya.

“Saya meyakini para politisi itu memahami betul apa yang bisa menggerakkan orang. Yang bisa menggerakkan orang adalah sentimen-sentimen primordial (termasuk di dalamnya isu agama),” jelas Alissa usai Dialog Kebangsaan Seri V bagian dari rangkaian ‘Jelajah Kebangsaan’ di Stasiun Tugu Kota Yogyakarta, Selasa (19/2/2019) malam.

Putri sulung Gus Dur ini mengungkapkan mudahnya masyarakat termakan isu agama yang dilemparkan oleh para politisi ini karena masih rendahnya pendidikan politik. Sehingga masyarakat pun terpengaruh oleh isu agama yang dimainkan demi meraup suara di Pemilu.

Alissa menerangkan isu agama di Pemilu 2019 membuat masyarakat terkotak-kotak. Sehingga dengan mudahnya digiring seakan-akan jika salah satu paslon menang atau kalah akan menentukan hidup matinya sebuah bangsa.

“Seakan-akan (pemilihan presiden) hidup-mati, padahal tidak. Siapapun Presidennya tidak ada yang mati juga. Padahal siapapun pemenangnya akan diikat oleh konstitusi. Tapi itu tidak dipahami sehingga seakan-akan (Pilpres itu) hidup mati padahal tidak. Siapapun Presidennya tidak akan ada yang mati juga,” ungkapnya.

Alissa menambahkan bahwa sentimen emosional masyarakat yang dipengaruhi oleh isu agama ini dimanfaatkan dengan baik oleh para politisi. Memanfaatkan sentimen masyarakat akan isu agama ini disebut Alissa sebagai dosa para politikus.

“Sentimen masyarakat yang seperti itu (digerakkan oleh isu agama) justru dimanfaatkan oleh elit politik. Siapa yang berdosa? Yang berdosa adalah elit politik yang memanfaatkan sentimen emosional warga yang belum cukup pendidikan politiknya,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here