Jelang Kelahiran Baginda Nabi Muhammad, Cahaya Memancar Antara Timur dan Barat

169

Muslim Obsession – Mayoritas ulama sepakat Nabi Muhammad Saw lahir pada 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah (570 Masehi). Beliau dilahirkan pada hari Senin, tanggal 12 di malam yang tenang pada bulan Rabi’ul Awwal Tahun Gajah. Demikian riwayat Imam Ibnu Ishaq dari Sayyidina Ibnu Abbas.

12 Rabiul Awal 1442 Hijriaah tahun ini jatuh pada Kamis, 29 Oktober disesuaikan penanggalan Hijriah. Hari Maulid Nabi menjadi agenda tahunan yang diperingati umat Islam di dunia termasuk di Indonesia. Berikut peristiwa luar biasa saat kelahiran Rasulullah.

Perlu digaris bawaih bahwa keagungan baginda Nabi Muhammad telah tampak sebelum beliau dilahirkan ke dunia. Tak hanya penduduk bumi, penduduk langit pun bergembira menyambut kalahiran Rasulullah yang mulia.

Pada saat kelahiran Rasulullah, berdasarkan berbagai riwayat disebutkan bahwa Sayyidah Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah berkata: “Ketika aku dalam proses melahirkan Rasulullah, aku tidak mendapatkan rasa sakit sedikit pun sampai aku melahirkannya. Ketika Rasulullah sudah lahir, keluarlah cahaya yang menyinari antara timur dan barat.”

Baca juga: Dunia Merindukan Nabi Muhammad

Beliau lahir dengan bertelungkup dengan kedua tangannya. Dalam riwayat lain disebutkan, beliau lahir dalam keadaan duduk dengan lututnya (seperti tahiyyat awal) sambil mengangkat kepalanya ke langit, dan bersamaan dengannya, keluarlah cahaya yang menyinari istana Syam dan pasar-pasarnya.

“Sampai aku melihat leher-leher unta di bumi.” Demikian kata ibunda Rasulullah.

Ada pula kesaksian seseorang yang pernah menyaksikan peristiwa kelahiran Rasulullah. Ia adalah ibu Utsman binti Abdash, beliau berkata:

“Aku menyaksikan ketika Aminah melahirkan Rasulullah, keluar cahaya yang menyinari seluruh rumah. Di saat itu aku sedang berada di rumahnya. Kemana pun kami melihat, yang terlihat adalah cahaya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani, juga Al-Haitami dalam Kitab Majma’.

Banyak sekali hadits-hadits yang menyebutkan bahwa seluruh anggota tubuh Rasulullah serta wajah beliau bercahaya. Ada sahabat yang berkata: “Aku punya pertanyaan yang bertahun-tahun tidak sanggup aku sampaikan karena wibawa Rasulullah.”

Baca juga: Penjelasan Ulama Lintas Madzhab tentang Perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ

Karena cerita-cerita tentang wibawa Rasulullah itu, ada orang yang bertanya kepada Al Barra’, “Apakah wajah itu seperti pedang, sehingga orang yang melihatnya ketakutan?” “Tidak. Wajahnya seperti rembulan.”

Ka’ab bin Malik menceritakan: “Ketika mengucapkan salam kepada Rasulullah, aku melihat wajah beliau berseri-seri karena kebahagiaan. Jika merasa bahagia, wajah Rasulullah itu berseri-seri seperti rembulan.” (Shahih Al-Bukhari bab sifat Nabi)

Ada banyak referensi yang menguatkan bahwa kelahiran Nabi jelas terang benderang disinari oleh cahaya Nur yang tak bisa dinafikan, hingga dilihat oleh seorang Yahudi di kota Makkah.

Dalam Kitab Nurul Abshar fi Manaqib An-Nabiyyil Mukhtar karya Syeikh Mu’min as-Syablanji Ulama Sunni Abad ke-13 H pada Halaman 27: Di sana diriwayatkan ada seorang Yahudi di Kota Makkah yang menanyakan tentang peristiwa kelahiran Nabi Muhammad dari indikasi cahaya terang benderang yang ia lihat di malam itu.

Baca juga: Bukan untuk Dilukis, Quraish Shihab Jelaskan Ciri-Ciri Perawakan Nabi

Dalil lain yang menguatkan ada pada kitab ‘Uyunul Atsar’ karya Al-Hafidz Muhammad al-Ya’mari halaman 81 dari pengakuan Fathimah binti Abdillah yang menyaksikan cahaya terang benderang itu pada malam itu dengan ucapannya:

فما شيئ أنظر إليه من البيت إلا نور

“Aku tidak melihat dari rumahku, melainkan cahaya yang terang benderang.”

Selain itu, dalam Kitab Al-Khasaish Al-Kubro karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi halaman 83 meriwayatkan hal sama dari ucapan Sayyidah Aminah, ibunda Rasulullah yang menyatakan kebenaran adanya cahaya terang benderang itu dengan ungkapan:

ورأيت نوا ساطعا من رأسه حتى بلغ السماء

“Aku menyaksikan cahaya memancar dari kepala bayiku Muhammad hingga menembus langit.”

Wajah Rasulullah Seperti Bulan yang Bersinar

Dalam bait-bait shalawat, kita sering mendengar ungkapan berikut:
“Anta syamsun anta badrun, Anta nurun fauqan nuri, Anta iksiru wa ghali, Anta misbahush shuduri”. Artinya engkaulah matahari engkaulah rembulan, engkaulah cahaya di atas cahaya, engkaulah kesturi, engkaulah wewangian, Engkaulah cahaya hatiku.

Dari bait-bait tersebut, wajah Rasulullah seperti bulan yang bersinar. Mungkin ada orang yang berkata bahwa itu hanya metafora, kiasan, sebagaimana orang jatuh cinta yang sedang memuja-muja orang yang dicintainya. Jadi ada orang yang menganggap cahaya wajah Rasulullah itu hanya sebagai kiasan.

Menurut mereka, itu bukan makna yang sebenarnya, seperti kita sering mendengar ungkapan orang yang wajahnya berseri-seri hanya seolah-olah bersinar. Sungguh penilaian itu sangat keliru. Wajah Rasulullah benar-benar bercahaya dalam arti yang sebenarnya, bukan hanya kiasan.

Wajah Rasulullah benar-benar bercahaya. Dalam hal ini Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anhu memberi kesaksian (Kanzul Ummal 6: 207). Sayyidah Aisyah berkata:

“Aku meminjam jarum dari Habsah binti Rawahab untuk menjahit. Jarum itu jatuh. Aku mencari-cari, tapi tidak menemukannya. Maka ketika Rasulullah masuk, kelihatan jelaslah jarum yang hilang itu karena pancaran sinar wajahnya. Aku pun tertawa.”

Rasulullah bertanya: “Hai Humaira, mengapa engkau tertawa?’ Aku berkata, ‘Begini dan begini, ya Rasulullah,” kuceritakanlah peristiwa itu. Kemudian Rasulullahberkata:

“Hai Aisyah, malanglah orang yang tidak diberi kesempatan memandang wajahku karena tidaklah seorang Mukmin atau kafir kecuali mengharapkan melihat wajahku.”

Masya Allah betapa beruntungnya mereka yang memuliakan Rasulullahdan bergembira menyambut kelahirannya. Jika di dunia kita tidak dapat melihat wajah mulia yang memancarkan cahaya itu, insya Allah nanti di Akhirat kita diberi kesempatan melihat wajah Rasulullah . Allahumma Aamiin!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here