Jangan Takut! Sikapi Coronavirus Sewajarnya

425

Oleh: Syaiful Sulaiman (Muslim NTT)

Afwan jiddan. Kami rasa kita harus lebih bersikap obyektif. Umat Islam dengan aqidah yang syamil insya Allah tidak terlalu ghuluw dalam menyikapi wabah penyakit yang sejatinya Allah lebih ketahui hakikatnya.

Semua atas qudrat dan iradat-Nya. Mestinya kita haqqul yaqin di samping kesungguhan kita mawas diri. Langkah kongkrit prefentif untuk menghindarinya adalah mengikuti seluruh aturan medis itulah batas maksimal kita dalam ikhtiar dan tawakal.

Saya khawatir umat Islam jadi lemah imannya, hilang keyakinan sampai terjangkit “coronaphobia” bisa menghilangkan tawakal bahkan menanggalkan roja’ kepada-Nya.

Ketakutan berlebihan berakibat terjangkit penyakit WAHN alias cinta dunia takut mati. Umat berada di antara ketakutan luar biasa.

Ya Allah… Bukankah Saad bin Abi Waqqas hanya berucap ‘hasbunalllah’ di tengah kesulitan saat pasukannya berhadapan dengan prajurit Romawi!! Bukankah kaum mukminin penggali parit dalam perang Khandak totalitas berharap pertolongan Allah!

Bukankah Rasulullah menghibur Abu Bakar ketika khawatir dilihat musyrikin Makkah bahwa Allah yang’ melindungi kita’ ketika kegentingan di Gua Tsur!!

Bukankah dalam perang Tustar, Majsa’ah bin Tsaur mampu menembus saluran terowongan air hingga memenangkan pertempuran! Dan bukankah Rasulullah mengajarkan kita dzikir pamungkas atas segala marabahaya.

Dalam perang Kinnasirin di Palestina, Khalid bin Walid diundang pasukan salib, dalam perundingan itu minuman dibubuhi racun diberikan pada panglima Islam terhebat yang jarang kalah ini.

Khalid tahu sangat boleh jadi inilah penyelesaian dalam pengepungan mereka. Di depan pendeta dan petinggi pasukan salib, Khalid mengambil air bubuhan racun itu dan membaca: ‘Bismillahilladzi laa yadlurru ma’ismihi syaiun fil ardli walaa fissamaa-i wahuwassami’ul ‘alim’,
wajah sang panglima sempat memerah dan kembali normal. Akhirnya kemenangan diraih tanpa perang ditandai menyerahnya pasukan salib.

Mari bergerak!!! Corona seakan signal dari Allah, siapa yang lebih takut pada-Nya atau terpedaya dengan media yang hanya melemahkan iman kita. Walau kita tak mengingkari bahwa semua sudah berlaku.

Corona hadir untuk menguji, Corona hadir untuk mengubah cara pandang kaum kuffar bahwa seluruh instrumen Islam pasti untuk kemaslahatan dunia dan akhirat.

Hijab, cadar, khalwat, batasan aurat, cara bermuamalah semuanya seakan digiring agar persepsi pada Islam tak bermakna pejoratif. Seakan dikomando, naluri manusia diperintah untuk ikut aturan dan tata cara Islam. Masya Allah.

Wahai umat Muhammad, kita istimewa, kita umat pertengahan, kita berbeda dengan kaum kuffar. Mari bergerak, ALLAHU AKBAR!!!

Hamba Fakir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here