Jangan Mencela Meski di Dunia Maya

451
KH M. Luqman Hakim.
KH M. Luqman Hakim.

Jakarta, Muslim Obsession – Di media sosial atau dunia maya, cacian, makian, dan celaan seperti tak pernah habisnya. Orang-orang di dunia maya hampir setiap hari gampang mencela dan memaki orang lain.

Fakta ini tidak bisa dielakkan turut mempengaruhi perilaku manusia di dunia nyata. Di sini destruksi moralitas terjadi ketika orang-orang tidak mampu menggunakan media sosial secara baik dan benar.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim mengingatkan kepada orang-orang yang suka mencela di dunia maya. Kiai Luqman meminta kita jangan mencela meski di dunia maya.

Menurutnya, perilaku seseorang yang gemar mencela sesungguhnya merupakan potret atau gambaran dirinya, bukan orang lain. 

“Kalau Anda sedang memaki dan mencela orang lain, sebenarnya itu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain itu,” kata Kiai Luqman, seperti dikutip dari twitternya, Jumat (5/7/2019).

Lebih jauh Direktur Sufi Center ini menerangkan bahwa jujurnya hati itu pasti benar. Karena itu, benar inilah yang mengantar ikhlas seseorang.

“Maka, bab Ash-Shidq wal Ikhlas sering bersanding dalam kitab-kitab Tasawuf, bahwa akhlak baik salah satunya berpondasi pada kejujuran dan keikhlasan melalui belajar dan praktik ilmu-ilmu tasawuf,” terangnya.

Manusia hendaknya berpegang teguh pada Tali Allah dalam segala hal. Karena itu bisa membuat menusia bersatu dalam kemanusiaan karena Allah.

“Tali Allah itu bukan sistem, juga bukan ideologi, juga bukan manhaj. Tetapi keterikatan hati kita pada sifat-sifat Allah, dengan totalitas kehambaan kita setiap saat,” tulis penulis buku Jalan Ma’rifat ini.

Ia menegaskan, kembali kepada Allah SWT itu sangat dinamis, bukan statis dan fatalis. Kembali kepada Allah SWT itu sangat merdeka, bukan terjebak atas nama ketakberdayaan.

“Kembali kepada Allah SWT sangat humanis, bukan egois, eksklusif dan antisosial. Tanpa kembali kepada Allah, rahmatan lil ‘alamin hanya jargon,” ucapnya.

Ia juga menerangkan, fakir kepada Allah SWT adalah niscaya selamanya bukan sewaktu-waktu belaka saat seseorang terjepit.

“Fakir kepada Allah membuka pintu bahwa dirimu tetap hamba-Nya. Sejenak Anda tidak fakir kepada-Nya, Anda sudah jadi penyembah berhala nafsu, setan, dan dunia. Fakirmu wadah Anugerah-Nya,” pungkasnya. (Way)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here